LINGKARPENA.ID | Libur akhir tahun membawa berkah bagi sektor pariwisata di kawasan Pajampangan, Kabupaten Sukabumi. Salah satu objek wisata edukasi yang ramai dikunjungi wisatawan adalah Pantai Pangumbahan, yang terletak di Kecamatan Ciracap. Pantai ini dikenal sebagai kawasan konservasi penyu sekaligus destinasi wisata edukatif yang menyuguhkan pengetahuan tentang kehidupan satwa laut bertempurung, khususnya penyu hijau.
Sejak pagi hingga sore hari, pengunjung dari berbagai daerah terlihat memadati kawasan konservasi. Selain menikmati panorama pantai selatan, wisatawan juga mendapatkan beragam informasi mengenai siklus hidup penyu, mulai dari proses bertelur, penetasan telur, hingga pelepasan tukik atau anak penyu ke laut lepas.
Salah satu atraksi yang paling dinantikan pengunjung adalah pelepasan tukik, yang menjadi tahapan akhir dari proses penangkaran penyu. Dalam proses tersebut, telur-telur penyu yang ditemukan di sepanjang Pantai Pangumbahan terlebih dahulu dikumpulkan dan dieramkan di area penangkaran hingga menetas. Setelah cukup umur, tukik-tukik tersebut kemudian dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di laut bebas.
Pantai Pangumbahan dapat ditempuh dengan mudah. Dari Pantai Cibuaya, pengunjung hanya perlu menuju ke arah barat sekitar satu kilometer. Secara administratif, kawasan ini berada di Kampung sekaligus Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.
Kepala UPTD Konservasi Penyu Pangumbahan, Ade Herdy Yunanto, SP, menjelaskan bahwa kawasan konservasi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelestarian, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas.
“Di kawasan Konservasi Penyu Pangumbahan, kami telah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang, di antaranya masjid, laboratorium, kantin, ruang pencerahan, penginapan, menara pengawas, serta galeri cendera mata,” ujar Ade saat ditemui di lokasi, Minggu (28/12).
Ia menambahkan, bagi pengunjung baik perorangan maupun rombongan yang ingin mengetahui lebih jauh tentang penyu, pihaknya menyediakan ruang pencerahan lengkap dengan pemateri.
“Jika ada pengunjung yang ingin tahu tentang penyu, kami sudah mempersiapkan ruang pencerahan dan pematerinya. Semua itu gratis,” tegasnya.
Dalam pengelolaan kawasan konservasi, UPTD Pangumbahan juga menggandeng berbagai pihak untuk memperkuat upaya pelestarian. Kerja sama dilakukan dengan Karang Taruna Desa Pangumbahan, Kelompok Konservasi Penyu Sukabumi, Powasmas Genteng Nusantara, serta Kelompok Ekopatih atau Ekowisata Pasir Putih.
Ade mengungkapkan, Pantai Pangumbahan merupakan salah satu pantai penghasil telur penyu terbesar di Sukabumi. Pada tahun 2023, tercatat sekitar 7.000 induk penyu mendarat dan bertelur di pantai tersebut, menghasilkan kurang lebih 97.000 tukik.
“Masa produktif penyu bertelur terjadi antara bulan Juni hingga Desember. Telur-telur yang dihasilkan tidak untuk dijual, melainkan seluruhnya digunakan untuk penangkaran sebagai bagian dari upaya konservasi,” jelas Ade.
Jenis penyu yang hidup dan berkembang biak di Pantai Pangumbahan adalah penyu hijau (Chelonia mydas), salah satu spesies penyu yang dilindungi.
Untuk masuk ke kawasan konservasi, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp10.000 untuk umum dan Rp5.000 untuk anak-anak. Sementara itu, bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung proses induk penyu bertelur pada malam hari, dikenakan biaya tersendiri dan wajib didampingi petugas.
Pelepasan tukik sendiri biasanya dilaksanakan pada pukul 18.00 WIB. Setelah itu, area pantai akan ditutup sementara.
“Kami mengimbau seluruh pengunjung untuk mengosongkan pantai sebelum pukul 18.00 atau menunggu hingga kegiatan pelepasan tukik selesai,” kata Ade.
Pengunjung diperbolehkan melakukan dokumentasi berupa foto atau video, dengan ketentuan tidak melewati garis pembatas dan tidak menyentuh tukik yang akan dilepas ke laut.
Salah seorang wisatawan asal luar kota, Rina (35), warga Jakarta, mengaku sengaja datang ke Pantai Pangumbahan untuk memberikan pengalaman edukatif.






