Ciletuh Kembali Bersinar di Panggung Dunia, Status Geopark UNESCO Diperpanjang

LINGKARPENA.ID | Di balik debur ombak selatan dan bentang alam purba yang memikat, kabar membanggakan kembali datang dari Ciletuh-Palabuhanratu Geopark. Kawasan yang dikenal sebagai salah satu lanskap geologi terbaik di Indonesia ini вновь memastikan posisinya di panggung global. Selasa ( 28/4/2026 ).

 

Melalui pengumuman resmi UNESCO dari Paris, geopark kebanggaan Kabupaten Sukabumi tersebut kembali memperoleh “kartu hijau” atau green card, tanda bahwa statusnya sebagai bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark diperpanjang untuk empat tahun ke depan.

Baca juga:  Di Hut Asita, Dispar Sukabumi Tegaskan Pentingnya Sektor Pariwisata dalam Perekonomian dan pemberdayaan Masyarakat

 

Kabar itu disambut hangat oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas, yang mengikuti pengumuman secara virtual, menyampaikan rasa syukur sekaligus optimisme atas capaian tersebut.

 

“Ini bukan sekadar prestasi, tapi amanah. Kita harus terus menjaga kelestarian alam, budaya, dan memberdayakan masyarakat agar manfaatnya dirasakan hingga ke generasi mendatang,” ujarnya.

Baca juga:  Pulau Keris di Pantai Selatan Sukabumi Menyerupai Luk Keris, Ini Menurut Ceritanya!

 

Sejak pertama kali diakui dunia pada 2018, kawasan ini memang tak hanya menawarkan panorama, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi masyarakat serta laboratorium alami untuk pembangunan berkelanjutan. Dari air terjun bertingkat hingga formasi batuan purba, semuanya menyimpan cerita panjang bumi yang kini dijaga bersama.

 

Perpanjangan status ini bukan garis akhir. Pemerintah daerah melalui badan pengelola geopark telah bersiap menatap evaluasi berikutnya dengan langkah-langkah strategis yang lebih matang.

Baca juga:  Iyos Somantri: Geopark Run Akan Dijadikan Agenda Tahunan

 

“Kita harus mulai dari sekarang, memperkuat semua aspek agar pada revalidasi mendatang hasilnya tetap maksimal,” tambah Andreas.

 

Ciletuh hari ini bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah simbol harmoni antara alam dan manusia—sebuah kebanggaan Sukabumi yang terus menggaung hingga ke dunia.

 

Pos terkait