Beberapa Wilayah Terdampak Banjir dan Longsor Hari Ini di Kabupaten Sukabumi

Suber Foto : P2BK

LINGKARPENA.ID |Curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi sejak Sabtu (10/1/2026) memicu serangkaian bencana alam berupa longsor dan banjir di sejumlah kecamatan. Dampaknya, beberapa ruas jalan provinsi dan nasional terganggu, bahkan ada yang terpaksa ditutup total demi keselamatan pengguna jalan.

Di Kecamatan Nyalindung, Tembok Penahan Tanah (TPT) pada ruas jalan provinsi Sukabumi–Sagaranten kembali ambrol. Peristiwa tersebut terjadi di Kampung Langkob, Desa Nyalindung, pada Minggu (11/1/2026) sekitar pukul 04.00 WIB saat kondisi masih gelap.

Akibat ambrolnya TPT, material longsoran menutup sebagian badan jalan sehingga arus lalu lintas dari kedua arah harus diberlakukan sistem buka-tutup. Hingga Minggu siang, petugas masih melakukan pemantauan di lokasi untuk mengantisipasi longsor susulan.

Bencana longsor juga terjadi di Kecamatan Simpenan. Longsor menutup total ruas Jalan Nasional Bagbagan–Kiara Dua yang merupakan jalur vital penghubung antarwilayah di selatan Sukabumi. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi melalui P2BK Simpenan, longsor pertama terjadi sekitar pukul 10.00 WIB dan disusul longsoran kedua pada pukul 12.00 WIB.

Baca juga:  Longsor Timpa Rumah Warga di Kabandungan

Lokasi longsor berada di Kampung Cipamunguan dan Kampung Cimapag, Desa Loji, Kecamatan Simpenan. Material longsoran berupa tanah dan bebatuan menutup badan jalan di dua titik dengan tinggi longsoran diperkirakan mencapai 2 hingga 5 meter, panjang sekitar 25 meter, dan lebar kurang lebih 6 meter.

P2BK Simpenan, Dandi Sulaeman, mengatakan pihaknya langsung bergerak ke lokasi setelah menerima laporan dari masyarakat.

“Longsor terjadi akibat hujan yang turun cukup lama dengan intensitas sedang hingga tinggi. Material longsoran menutupi badan jalan nasional sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat tidak bisa melintas. Untuk sementara, akses Bagbagan menuju Kiara Dua kami tutup total,” ujar Dandi saat dikonfirmasi, Minggu (11/1/2026).

Meski menutup jalur utama, Dandi memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. Namun, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi longsor karena masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan.

Masih di Kecamatan Simpenan, banjir dilaporkan merendam tiga rumah warga di Kampung Mariuk, Desa Cidadap. Banjir tersebut disebabkan oleh tersumbatnya gorong-gorong akibat material lumpur dan sampah yang terbawa aliran air hujan.

Baca juga:  Hari Weekend, Ini Peran Jiwa Sosial Kapolres Sukabumi 

Sementara itu, banjir juga terjadi di Kecamatan Ciemas. Luapan Sungai Cikalong menyebabkan genangan air yang merendam jalan raya serta area persawahan milik warga di Kampung Cihuni, Desa Ciwaru, yang berbatasan langsung dengan Desa Mekarakt i. Kondisi tersebut sempat mengganggu aktivitas warga dan pengguna jalan.

Bencana banjir turut melanda Kecamatan Tegalbuleud. Genangan air mulai meningkat sejak Minggu (11/1/2026) pagi dan menggenangi sejumlah titik ruas jalan nasional yang melintasi wilayah tersebut. Hujan dengan intensitas tinggi dilaporkan masih berlangsung hingga Minggu siang.

Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Tegalbuleud, Noris, mengatakan banjir terjadi hampir merata di beberapa desa akibat tingginya curah hujan.

“Beberapa ruas jalan nasional di wilayah Kecamatan Tegalbuleud mulai terendam banjir. Kondisi saat ini hujan masih cukup tinggi dan genangan air masih berada di sekitar badan jalan. Belum sampai ke rumah-rumah warga, namun kami terus melakukan pemantauan,” kata Noris.

Menurut Noris, wilayah yang terdampak cukup signifikan berada di Desa Buniasih dan Desa Rambay. Air menggenangi badan jalan dan berpotensi mengganggu mobilitas masyarakat, khususnya pengguna jalan yang melintas di jalur tersebut.

Baca juga:  Rumah Sang Kakek di Sukalarang Ambruk Setelah Dihantam Angin Kencang

“Banjir hampir merata, terutama di Desa Buniasih dan Rambay. Sampai saat ini belum ada laporan rumah warga yang terendam dan tidak ada korban jiwa,” jelasnya.

Ia menambahkan, banjir yang terjadi umumnya disebabkan oleh curah hujan tinggi yang dibarengi dengan sistem drainase jalan yang tidak berfungsi optimal.

“Secara umum kondisinya masih aman. Banjir yang menggenangi jalan ini akibat curah hujan tinggi dan drainase jalan yang tidak normal,” tambah Noris.

P2BK di masing-masing kecamatan bersama unsur terkait masih terus melakukan pemantauan intensif di lapangan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan mengingat cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi, khususnya di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi.

“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras turun dalam waktu lama. Jika melihat tanda-tanda air mulai meluap atau kondisi membahayakan, segera laporkan kepada petugas agar bisa ditangani lebih cepat,” pungkas Noris.

Pos terkait