Belajar di Tengah Keterbatasan, Siswa MTs Nurul Hasanah Bertahan di Ruang yang Rapuh

FOTO: Kondisi bangunan Sekolah MTs Nurul Hasanah, Desa Sindangraja, Kecamatan Curugkembar Sukabumi.[dok.ist]

LINGKARPENA.ID | Di sebuah sudut Kampung Cicukang, Desa Sindangraja, Kecamatan Curugkembar, semangat belajar ratusan siswa MTs Nurul Hasanah tetap menyala, meski harus berhadapan dengan kondisi bangunan sekolah yang jauh dari kata layak.

 

Bangunan madrasah yang berdiri sejak 1992 itu kini menyisakan cerita pilu. Dari total 10 ruang kelas yang pernah ada, hanya tiga ruangan yang masih digunakan. Itupun dalam kondisi memprihatinkan—atap lapuk, dinding retak, dan rasa khawatir yang selalu mengintai setiap kali hujan turun.

 

Saat rintik hujan mulai membasahi halaman sekolah, aktivitas belajar mengajar tak jarang terhenti. Para siswa terpaksa berpindah ke masjid terdekat demi melanjutkan pelajaran dengan lebih aman.

Baca juga:  Mendagri Minta Lulusan IPDN Jadi Pemimpin Kuat yang Punya Konsep

 

Ketua Komite MTs Nurul Hasanah, Mohammad Ilyas Suwandi, mengungkapkan bahwa kondisi ini merupakan dampak dari kebakaran hebat yang terjadi pada November 2025 lalu.

 

“Kebakaran itu menghanguskan empat ruang kelas dan kantor dua lantai. Sekarang siswa hanya belajar bergantian di tiga ruang yang tersisa. Kondisinya pun sudah lapuk dan tentu mengkhawatirkan keselamatan mereka,” ujarnya saat dikonfirmasi lingkarpena. id, pada Jumat ( 17/4/2026 ).

 

Dengan jumlah siswa mencapai 328 orang dan 26 tenaga pengajar, keterbatasan ruang membuat proses belajar harus dilakukan secara bergilir. Situasi ini tidak hanya mengganggu efektivitas pembelajaran, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas pendidikan yang diterima para siswa.

Baca juga:  TBM Macatongsir Sarat Prestasi Minim Dukungan

 

Menurut Ilyas, pihak sekolah bersama komite dan orang tua siswa telah berulang kali mengajukan permohonan bantuan kepada instansi terkait. Namun hingga kini, upaya tersebut belum membuahkan hasil nyata.

 

“Kami sudah beberapa kali mengusulkan perbaikan. Bahkan pernah ada pihak dari Kementerian Agama yang datang meninjau, tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” tambahnya.

 

Di balik keterbatasan itu, terlihat jelas bahwa para siswa dan guru tetap berupaya menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan penuh dedikasi. Namun, semangat saja tentu tidak cukup jika tidak ditopang oleh sarana dan prasarana yang memadai.

Baca juga:  Jumlah Korban Diduga Keracuan di Simpenan Bertambah, Dinkes Sukabumi Lakukan Penyelidikan Epidemiologi  

 

Fasilitas pendidikan yang layak bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan efektif. Ruang kelas yang kokoh, atap yang tidak bocor, serta sarana pendukung lainnya menjadi kebutuhan dasar yang seharusnya dipenuhi demi menjamin keselamatan dan masa depan generasi muda.

 

Kini, harapan besar disematkan kepada pemerintah dan pihak terkait agar segera memberikan perhatian nyata. Bagi para siswa MTs Nurul Hasanah, ruang kelas yang layak bukan hanya soal bangunan, tetapi tentang hak mereka untuk belajar dengan tenang dan bermartabat.

Pos terkait