LINGKARPENA.ID | Pagi yang semula tenang di Kampung Cipeundeuy RT 22 RW 03, Desa Cimahpar, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah menjadi kepanikan. Kobaran api melalap sebuah rumah panggung milik Cecep (50), Jumat (8/5/2026), hingga hangus tak tersisa.
Asap hitam membumbung tinggi dari atap rumah sekitar pukul 07.00 WIB. Warga yang melihat kejadian itu langsung berhamburan mencoba memadamkan api menggunakan alat seadanya. Namun, material rumah yang didominasi kayu membuat si jago merah dengan cepat menguasai seluruh bangunan.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Saat kejadian, pemilik rumah dan keluarganya tengah berada di luar rumah.
Kepala Desa Cimahpar, Cep Wahyu Bahrul Ulum, mengatakan penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Namun dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik.
“Persis kronologisnya belum diketahui pasti, karena saat kejadian pemilik rumah sedang berada di luar. Istrinya sedang mengikuti pengajian ibu-ibu, sementara suaminya juga sedang beraktivitas di luar rumah. Berdasarkan keterangan tetangga, api pertama kali terlihat dari bagian atap rumah,” ujarnya kepada lingkarpena. id, Jumat ( 8/5/2025 ).
Ia menuturkan, api cepat membesar sehingga warga tidak sempat melapor ke petugas pemadam kebakaran. Selain itu, jarak lokasi kejadian menuju Pos Damkar Jampangkulon cukup jauh.
“Karena api cepat membesar, penanganan dilakukan warga secara swadaya. Damkar juga tidak sempat tiba ke lokasi karena jauhnya jarak dari Jampangkulon,” tambahnya.
Dalam kebakaran tersebut, rumah panggung berukuran 5×10 meter itu ludes terbakar bersama sejumlah barang berharga milik korban. Dua unit sepeda motor, satu unit traktor, padi, gula sekitar satu kuintal, hingga berbagai surat penting ikut hangus dilalap api.
Kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp100 juta.
Sementara itu, Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Kalibunder, Yustika, mengatakan pihaknya langsung melakukan assessment ke lokasi bersama unsur terkait setelah menerima laporan kejadian.
“Kami berkoordinasi dengan perangkat desa, Tagana, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP, relawan dan warga setempat untuk melakukan pendataan serta penanganan awal bagi korban,” kata Yustika.
Menurutnya, kebutuhan mendesak yang saat ini diperlukan korban meliputi kebutuhan dasar pangan, perlengkapan sanitasi, serta alat memasak.
“Saat ini korban sementara mengungsi ke rumah kerabatnya. Kami bersama pemerintah desa dan unsur terkait sedang berupaya membantu kebutuhan dasar keluarga korban,” ujarnya.
Kini, di antara sisa arang dan puing rumah yang menghitam, warga sekitar bergotong royong membantu keluarga Cecep bangkit dari musibah. Pemerintah desa bersama Karang Taruna dan masyarakat setempat juga mulai menggalang bantuan untuk meringankan beban korban.






