LINGKARPENA.ID | Malam di rumah sederhana milik LL di Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, tak selalu terang. Selama lebih dari dua puluh tahun, perempuan yang membesarkan enam anak itu hanya bisa menikmati aliran listrik dengan cara menumpang dari rumah tetangga.
Di sela aktivitasnya membuat layang-layang, LL mengaku sering memendam keinginan sederhana yang hingga kini belum mampu diwujudkan, yakni memiliki sambungan listrik sendiri di rumahnya.
“Kalau punya listrik sendiri tentu rasanya lebih tenang. Anak-anak juga bisa belajar dengan nyaman,” ujar LL saat ditemui, Jumat (22/5/2026).
Bagi keluarga LL, listrik bukan sekadar penerangan. Ada harapan yang ikut menyala di balik lampu yang menggantung di rumahnya. Namun kondisi ekonomi membuat impian itu terus tertunda.
Setiap hari LL membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan menjadi pengrajin layang-layang, sementara sang suami bekerja serabutan. Penghasilan yang didapat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan biaya hidup sehari-hari.
Biaya pemasangan listrik mandiri yang dianggap cukup besar membuat keluarga tersebut belum mampu mengajukan sambungan resmi ke rumah mereka.
Meski hidup dalam keterbatasan, LL tetap menyimpan harapan suatu saat keluarganya bisa menikmati listrik sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.
“Harapan saya sederhana saja, mudah-mudahan suatu hari nanti rumah kami punya sambungan listrik sendiri,” ucapnya lirih.
Di tengah gemerlap pembangunan dan mudahnya akses listrik di banyak tempat, kisah LL menjadi potret masih adanya warga yang berjuang untuk mendapatkan kebutuhan dasar yang bagi sebagian orang mungkin dianggap biasa.






