LINGKARPENA.ID | Sejumlah peralatan dapur berbahan bambu yang dianyam, seperti bakul nasi (boboko), kipas bambu (hihid), hingga tempat menanak nasi (aseupan), yang beredar luas di wilayah Pajampangan bahkan sebagian Kota Sukabumi, bukan tidak mungkin merupakan hasil karya tangan-tangan terampil warga Kampung Cisuren, Desa Jagamukti, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.
Bagi masyarakat Kampung Cisuren, membuat peralatan dapur dari bambu bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan telah menjadi tradisi yang mengakar kuat. Kerajinan anyaman bambu ini merupakan keterampilan turun-temurun warisan nenek moyang yang telah dijalani selama puluhan tahun dan terus dilestarikan hingga kini.
Pemandangan sekelompok ibu-ibu yang duduk bersama sambil menganyam bambu menjadi ciri khas tersendiri saat berkunjung ke kampung tersebut. Aktivitas itu tidak hanya menjadi simbol keberlanjutan tradisi, tetapi juga mencerminkan peran aktif kaum perempuan dalam membantu perekonomian keluarga. Di sela-sela aktivitas rumah tangga, para istri turut ambil bagian menghasilkan produk kerajinan yang secara tidak langsung meringankan beban suami dalam mencari nafkah.
Dari hasil anyaman tangan mereka, para ibu rumah tangga di Kampung Cisuren mampu memperoleh penghasilan tambahan yang cukup berarti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Produk-produk tersebut dijual kepada pengepul dengan kisaran harga antara Rp6.000 hingga Rp15.000 per buah, tergantung jenis dan ukuran barang.
“Saya senang bisa membantu suami mencari nafkah. Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Kanah (45), salah seorang perajin anyaman, saat ditemui di kediamannya.
Hal senada diungkapkan Titin (35), perajin lainnya. Menurutnya, kegiatan menganyam juga membawa dampak sosial yang positif bagi para ibu di kampung tersebut. “Alhamdulillah, kegiatan kami positif setiap hari. Kami bisa berkumpul sambil menganyam,” tuturnya.
Sementara itu, peran kaum bapak tidak kalah penting dalam mata rantai produksi kerajinan anyaman bambu ini. Mereka bertugas mencari bahan baku bambu di hutan sekitar desa. Tak jarang, bambu juga dibeli dari pemilik kebun bambu di desa tetangga untuk mencukupi kebutuhan produksi.
Selain perajin dan pencari bahan baku, keberadaan pengepul menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha kerajinan ini. Pengepul berperan sebagai penghubung antara perajin dengan pasar, menyalurkan hasil produksi ke berbagai pasar tradisional di wilayah Sukabumi.
“Alhamdulillah, dalam pemasaran saya dibantu beberapa pedagang dari berbagai daerah di Kabupaten Sukabumi,” ungkap Endin (45), pengepul kerajinan anyaman bambu asal Kampung Cisuren.
Hingga saat ini, kerajinan anyaman bambu tetap lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kampung Cisuren. Selain menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga, tradisi ini juga berfungsi sebagai upaya mempertahankan kearifan lokal khas daerah yang sarat nilai budaya.
Di tengah gempuran produk modern, anyaman bambu Kampung Cisuren tetap bertahan sebagai simbol ketekunan, kebersamaan, dan warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Editor : Redaksi






