
LINGKARPENA.ID | Aktivitas usaha pengolahan gula semut kelapa yang dijalankan secara rumahan di Kampung Cibuntu, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, terus menunjukkan geliat ekonomi yang menjanjikan. Berangkat dari kawasan pedesaan di selatan Sukabumi, produk gula semut ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga berhasil menembus pasar mancanegara, termasuk sejumlah negara di benua Eropa.
Gula semut yang diproduksi oleh pelaku usaha Famili Abadi berbahan baku utama nira kelapa. Ketersediaan bahan baku di Desa Buniwangi dinilai sangat mencukupi untuk mendukung produksi secara berkelanjutan. Tercatat, lebih dari 200 pohon kelapa secara khusus dimanfaatkan sebagai sumber nira. Dari hasil penyadapan tersebut, nira yang diperoleh dari sekitar 20 pohon kelapa dapat diolah menjadi kurang lebih 10 kilogram gula semut.
Pengrajin gula semut Famili Abadi, Subarna, mengungkapkan bahwa selama menjalankan usaha tersebut, dirinya tidak menemui kendala yang berarti. Menurutnya, salah satu keuntungan utama dari usaha gula semut di wilayah tersebut adalah ketersediaan bahan baku yang melimpah dan mudah diakses.
“Alhamdulillah, selama saya menekuni usaha gula semut ini tidak ada kendala yang signifikan. Bahan baku nira kelapa di sini sangat memadai, sehingga produksi bisa berjalan terus,” ujar Subarna, Minggu (14/12/2025).
Ia menjelaskan, penamaan gula semut merujuk pada bentuk produknya yang berupa butiran halus menyerupai sarang semut di dalam tanah. Selain tampilannya yang khas, gula semut memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan gula merah cetak pada umumnya, terutama dari segi daya simpan.
“Kalau dikemas dengan baik dan rapat, gula semut bisa disimpan sampai dua tahun tanpa berubah warna maupun rasa. Ini karena kadar udara di dalam gula semut hanya sekitar 2 sampai 3 persen,” jelasnya.
Dari sisi proses produksi, pembuatan gula semut kelapa hampir sama dengan pembuatan gula merah cetak. Proses dimulai dari pengambilan nira kelapa, dilanjutkan dengan pemasakan dan pengadukan secara terus-menerus hingga nira berubah menjadi butiran gula. Seluruh tahapan tersebut memerlukan waktu sekitar empat jam hingga produk siap untuk dikemas.
Subarna juga menegaskan bahwa gula semut yang diproduksinya dibuat tanpa campuran bahan kimia apa pun. Seluruh proses dilakukan secara alami dengan mengandalkan teknik tradisional yang telah lama dikuasai oleh para pengrajin setempat.
“Dalam prosesnya, kami sama sekali tidak menggunakan bahan kimia. Semua murni dari nira kelapa dan diolah secara alami,” tegasnya.
Untuk pemasaran, produk gula semut asal Desa Buniwangi telah menjangkau wilayah Pajampangan atau kawasan selatan Kabupaten Sukabumi. Di pasar lokal, gula semut dipasarkan dalam kemasan ekonomis seberat 250 gram dengan harga Rp10 ribu per kemasan. Selain itu, produk tersebut juga telah berhasil menembus pasar ekspor.
“Selain dipasarkan di wilayah Pajampangan, gula semut ini juga sudah diekspor ke luar negeri, salah satunya ke Belanda,” tutup Subarna.
Keberhasilan usaha rumahan ini menjadi bukti bahwa potensi sumber daya alam desa, jika dikelola secara optimal dan berkelanjutan, mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas hingga ke tingkat internasional.
Editor : Redaksi






