Carita Lubang Rintit Bersisik Sang Pemangsa Bayi di Leuwi Liang Cidolog

Beginilah kondisi Sungai Cidolog saat ini.| Istimewa

LINGKARPENA.ID | Kisah Lubang Rintit (Sidat Bersisik) di Leuwi Liang, Kecamatan Cidolog, konon menjadi buah bibir warga masyarakat setempat. Diceritakan warga setempat bahwa Lubang tersebut sempat mendapat julukan sang “Pemangsa Orok” (Bayi) di Kali Leuwi Liang Sungai Cidolog.

Cerita mitos itu hingga saat ini, masih menjadi dongeng warga setempat (Kecamatan Cidolog). Lokasinya terletak di area Perkebunan Pasir Kancana, berdekatan dengan Kampung Bobojong Desa Cidolog Kecamatan Cidolog Kabupaten Sukabumi.

Menurut keterangan cerita dari orang tua terdahulu letak lubang tersebut berdiam diri disalah satu pusaran air. Konon katanya Lubang itu bersemayam di Leuwi Liang dan tembusan air Leuwi itu tembus hingga ke Goa Dahu, arah Leuweung (hutan) Kenit artinya (hutan dan wadah air).

Letak leuwi tersebut dahulu terhampit dua pohon jambu kopo kiri dan kanan. Sebuah kisah pilu ini pernah menimpa keluarga si Pengembala Kambing, (ngangonan kambing). Dulu ada kebiasaan para ibu mengendong bayinya sambil ngasuh anaknya dengan menggunakan kain sarung bercorak batik orang Sunda dan biasa orang sunda menyebut kain (sarung keubat).

Area pengembalaan (sampalan) tersebut yang kini menjadi sebuah lapangan bola Tridaya Bakhti Kencana, menurut cerita penuturan sesepuh di Cidolog.

Singkat cerita, kala itu musim kemarau terlihat air sungai berwarna jernih
dan suasana alam sangat sejuk, di mana pepohonan yang rimbun memberikan rasa segar meniupkan angin sejuk karena oksigen alam begituh melimpah waktu jaman itu.

Baca juga:  FDSI Gelar Diskusi Bulan Bung Karno: Gerakan Nasional Membumikan Trisakti

Sebelum kejadian, dengan tidak ada rasa curiga, si ibu pengembala meletakan bayinya dengan mengunakan kain sarung yang dibikin ayunan pada salah satu pohon di pingiran kali. Sang bayi terlihat tertidur lelap lalu kemudian diletakan pada ayunannya yang dia bikin sang ibu.

Setelah itu, sang bayi tersebut di tinggalnya oleh sang ibu, ia bermaksud untuk melihat grombolan kambing peliharaanya dan memastikan masih berada di area wilayah penggembalaan (sampalan).

Setelah selesai memastikan kambing-kambingnya itu ada tidak lama kemudian sang ibu itu kembali bermaksud untuk melihat bayi yang ditinggalnya tadi dan sedang tidur lelap diatas ayunan. Awalnya dengan tidak ada rasa curiga apapun, sang ibu kembali sambil berjalan menuju tempat ayunan sang bayi namun apa yang terjadi?.

Namun setiba di lokasi bayinya, sang Ibu itu menjerit histeris, melihat dalam ayunan sang bayi itu raib dari ayunan. Sambil menangis tersedu-sedu sang ibu mencari keberadaan bayinya tetapi tidak ditemukan. Namun di lokasi sang ibu melihat ada yang aneh, dimana dengan hilangnya sang bayi itu dirinya melihat ada bekas lendir yang menempel pada kain ayunan.

Baca juga:  Catatan SMSI Jelang 2024: Soal Media, Jokowi Masih Adil 

Dan sang ibu mencium bau amis pada sekitar lokasi, juga terlihat pada ruput-ruput di pingir kali terkoyak menunjukan ada bekas hewan besar yang turun kesungai. Pada kondisi air yang jernih terlihat menjadi berwana keruh dari hilir menuju hulu.

Setelah menulusuri dan memastikan situasinya sang pengembala berkeyakinan lain atas hilangnya sang bayi. Itu karena melihat arah air keruh dan itu titik akhir di leuwi liang. Sehingga kejadian itu menjadi geger seluruh warga Cidolog kala itu. Dan orang tua bayi itu akhirnya mengikhlaskan anaknya tapi terus berupaya semoga keajaiban datang.

Upaya pencarian pun sempat dilakukan oleh warga masyarakat Cidolog dengan menyisir sungai tiap hari. Pencarian bayi pun terus menerus dilakukan oleh warga masyarakat untuk menemukan sang bayi, namun upaya itu tidak berhasil alias nihil.

Beberapa pekan kemudian kala itu ada kejadian aneh setelah hilanya bayi tersebut. Ada ledakan besar dan petir menyambar yang mengarah ke area leuwi tersebut yang dilihat langsung oleh warga setempat apa yang terjadi.

Terlihat dari dalam air mengeluarkan gelembung dan mengeluarkan bau yang sangat amis. Setelah ledakan itu terjadi warna air berubah menjadi keruh dan berwarna merah seperti darah. Kemudian kejadian itu diiringi dengan bermunculan nya sisik-sisik sebesar piring dan aroma bau amis dari leuwi tersebut. Banyak warga yang memastikan itu adalah sisik Lubang Rintit yang mati dan hancur akibat sambaran petir.

Baca juga:  HGN ke 63: Protein Hewani Cegah Stunting

Begitulah akhir riwayat cerita Lubang Rintit pemangsa orok (bayi) yang menimpa salah satu keluarga pengembala kambing dan lubang itu akhirnya mati disambar petir atas kuasa sang pencipta alam semesta.

Dalam cerita ini terus turun temurun dari sosok lubang rintit yang memiliki sisik atau hewan yang di raksuki siluman yang keberadaannya sangat mengerikan.

Kesimpulan cerita rakyat ini merupakan salah satu cermin dan pepatah untuk para orang tua untuk selalu menjaga anaknya dalam situasi apapun. Jangan terlepas dari pandangan juga pantauan karena bahaya bisa datang kapan saja dimana saja.

Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi dan spiritual pada pemikiran kita, bagaimana sayangnya orang tua pada anaknya juga sebaliknya bagai mana anak menyayangi orang tuanya.

Jika pemirsa pembaca penasaran dengan cerita ini juga ingin tahu dan mau berkunjung ke tempat tersebut harus di temani oleh pendaping warga setempat yang tahu dan memahami seluk beluknya.

Pos terkait