Harga Beras Naik, Mahasiswa Geruduk Balai Kota Sukabumi

Aksi sejumlah Mahasiswa UMMI Sukabumi saat menggelar demo di Balai Kota Sukabumi soal kenaikan harga beras.| Istimewa

LINGKARPENA.ID | Sekelompok Mahasiswa dari Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) melakukan unjuk rasa, menuntut pemerintah menyelesaikan permasalah harga beras dan pangan yang mahal.

Dengan melakukan long march, para mahasiswa tersebut mendatangi Balai Kota Sukabumi di Jalan R Syamsudin SH dan Gedung DPRD Kota Sukabumi di Jalan Ir H Djuanda, Kelurahan Cikole, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Kamis (29/4/2024).

Baca juga:  Cemilan Ramadhan, Ini Kayamang Singkong Takjil Khas Pajampangan Sukabumi

Para mahasiswa juga menuding pemerintah yang menjadi penyebab harga beras naik drastis. Pembelian beras yang digunakan untuk kepentingan bantuan sosial, disebut sebagai pemicu kenaikan harga beras, hingga naik menjadi Rp17 ribu perkilogram.

Sejumlah Mahasiswa saat menyuarakan kenaikan harga beras di Balai Kota Sukabumi.| ist

“Sukabumi sendiri dampak dari kenaikan beras ini sangat terasa, yang paling merasakan adalah masyarakat menengah ke bawah, karena mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli beras,” kata Ketua BEM Fakultas Pertanian UMMI, Diki Agustina.

Baca juga:  Gaji ASN Naik! Ribuan Guru Honorer Sukabumi Unjuk Rasa

Lanjut dia, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada beras, sejumlah bahan pokok yang lainnya juga, harganya ikut naik. Untuk itu, pihaknya meminta agar masyarakat bisa mendapatkan harga beras yang terjangkau dan tersedia di pasaran.

“Saya menilai, kenaikan harga beras bukan hanya disebabkan oleh iklim saja. Menurutnya, pemerintah terlalu ugal-ugalan mendistribusikan bantuan sosial (bansos) beras yang tidak sesuai jadwal dan peruntukannya,” ungkapnya.

Baca juga:  Wabup Terima Kunjungan PT Putri Cendrawasih Raya, Ini yang Dibahas

Bahkan cenderung mengabaikan prosedur. Krisis beras sudah terjadi sejak tahun lalu akibat iklim dan masalah pertanian. Karena sudah mendekati bulan Ramadan, dan ini momentum mafia pangan untuk kepentingan pribadi. Impor ini bukan impor kebutuhan masyarakat tapi segelintir orang,” pungkas Diki.

Pos terkait