LINGKARPENA.ID | Kontestasi kepemimpinan organisasi kepemudaan bukan sekadar ajang perebutan jabatan, melainkan momentum untuk menghadirkan arah baru yang mampu menjawab tantangan zaman. Di tengah dinamika sosial, ekonomi, hingga perkembangan teknologi yang terus berubah, pemuda dituntut tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai aktor utama pembangunan.
Semangat itulah yang diusung Doni Damara, S.IP, yang maju sebagai Calon Ketua Pengurus Kecamatan (PK) KNPI Bantargadung dengan mengusung slogan “KNPI Nyerenteng, Bantargadung Mentereng.” Sebuah jargon yang bukan hanya terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam tentang tekad membangun organisasi kepemudaan yang aktif, progresif, inklusif, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam visi yang diusungnya, Doni menegaskan komitmen untuk mewujudkan KNPI sebagai organisasi yang aktif, solid, transparan, serta menjadi jembatan aspirasi seluruh elemen pemuda tanpa membedakan latar belakang organisasi, pendidikan, maupun status sosial.
Menurut Doni, organisasi kepemudaan pada era modern harus meninggalkan pola-pola lama yang hanya sibuk dengan kegiatan seremonial. KNPI, katanya, harus menjadi laboratorium gagasan sekaligus pusat pengembangan kapasitas generasi muda.
“Saya ingin KNPI Bantargadung menjadi rumah besar seluruh pemuda. Tidak boleh ada sekat organisasi, tidak boleh ada politik eksklusif. Yang kita bangun adalah budaya kolaborasi, budaya berpikir ilmiah, dan budaya pengabdian kepada masyarakat. Pemuda harus menjadi solusi, bukan menjadi bagian dari persoalan,” ujar Doni Damara.
Ia menambahkan bahwa kepemimpinan hari ini tidak cukup hanya mengandalkan popularitas, melainkan harus dibangun di atas fondasi integritas, kompetensi, dan keberanian mengambil keputusan berdasarkan data.
“Organisasi akan kehilangan marwah ketika dijalankan tanpa integritas. Karena itu saya ingin membangun KNPI dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan kepemimpinan kolektif. Setiap program harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas, dapat diukur, dan memberikan dampak langsung kepada masyarakat. KNPI harus bergerak dengan gagasan, bukan sekadar slogan,” tegasnya.
Dalam misi yang dibawanya, Doni memprioritaskan terciptanya lingkungan organisasi yang saling mendukung, komunikasi yang terbuka, penguatan kapasitas sumber daya pemuda melalui pengembangan keterampilan, kecerdasan, dan akhlakul karimah, serta memperluas keterlibatan generasi muda dalam pembangunan daerah.
Gagasan tersebut selaras dengan berbagai kajian akademik mengenai pembangunan kepemudaan yang menempatkan pemuda sebagai agen perubahan (agent of change), agen kontrol sosial (social control), dan agen pembangunan (agent of development). Ketiga fungsi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila organisasi kepemudaan mampu menciptakan ruang partisipasi yang sehat, demokratis, serta berbasis pengetahuan.
Doni menilai bahwa tantangan terbesar organisasi kepemudaan saat ini bukanlah minimnya potensi pemuda, melainkan belum optimalnya ruang aktualisasi yang mampu menghubungkan ide-ide kreatif dengan kebijakan pembangunan daerah.
“Banyak pemuda Bantargadung memiliki kemampuan luar biasa. Ada yang bergerak di bidang UMKM, pertanian, pendidikan, teknologi digital, olahraga hingga seni budaya. Persoalannya adalah bagaimana organisasi mampu mengonsolidasikan seluruh potensi itu menjadi kekuatan kolektif. KNPI harus menjadi katalisator lahirnya inovasi-inovasi baru bagi kemajuan Bantargadung,” katanya.
Lebih jauh, Doni menegaskan bahwa organisasi kepemudaan juga harus berani menjalankan fungsi kritis terhadap kebijakan publik. Menurutnya, kritik yang dibangun berdasarkan data, kajian ilmiah, dan solusi merupakan bagian dari tanggung jawab moral organisasi dalam mengawal pembangunan.
“Pemuda tidak boleh kehilangan daya kritis. Tetapi kritik yang kita bangun harus objektif, argumentatif, berbasis fakta, dan menawarkan solusi. KNPI tidak boleh menjadi organisasi yang hanya mencari panggung, tetapi harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus pengawas sosial yang menjaga kepentingan masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen pemuda menjadikan momentum pemilihan Ketua PK KNPI Bantargadung sebagai ruang demokrasi yang sehat, penuh persaudaraan, serta mengedepankan adu gagasan dibandingkan konflik kepentingan.
Menurutnya, regenerasi kepemimpinan merupakan proses alamiah yang harus menghasilkan pemimpin yang mampu menyatukan berbagai potensi, bukan justru memperlebar perbedaan.
“Saya percaya kemenangan sejati bukan hanya soal terpilih menjadi ketua. Kemenangan terbesar adalah ketika seluruh pemuda Bantargadung dapat bersatu membangun daerah ini. Siapa pun yang memimpin nanti harus menjadi pemimpin bagi semua, bukan hanya bagi kelompok tertentu,” tuturnya.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, mulai dari persoalan pengangguran, rendahnya partisipasi pemuda dalam pembangunan desa, hingga derasnya arus disrupsi digital, KNPI dinilai memiliki peran strategis sebagai wadah kaderisasi sekaligus pusat lahirnya gagasan-gagasan pembangunan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Melalui semangat “KNPI Nyerenteng, Bantargadung Mentereng,” Doni Damara ingin menghadirkan wajah baru organisasi kepemudaan yang tidak hanya kuat dalam simbol dan retorika, tetapi juga kokoh dalam kerja nyata, penguatan kapasitas kader, pengabdian kepada masyarakat, serta keberanian menjaga nilai-nilai integritas.
Baginya, KNPI yang besar bukanlah organisasi yang hanya ramai dalam agenda seremonial, melainkan organisasi yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin muda berkarakter, berilmu, berakhlak, dan memiliki keberanian memperjuangkan kepentingan masyarakat secara konsisten.
“Bantargadung tidak membutuhkan pemuda yang hanya pandai berbicara. Bantargadung membutuhkan pemuda yang mau bekerja, berpikir, berkolaborasi, dan mengabdi. Itulah semangat yang ingin saya bangun bersama seluruh keluarga besar KNPI. Karena organisasi yang kuat lahir dari persatuan, integritas, dan keberanian menghadirkan perubahan,” pungkas Doni Damara.






