LINGKARPENA.ID | Semangat kolaborasi kembali ditegaskan sebagai landasan penting dalam memperkuat pemberdayaan dan menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Pesan ini mengemuka dalam Workshop “Menjalin Kolaborasi untuk Pemberdayaan dan Kemandirian Berkelanjutan” yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, lembaga masyarakat, serta mitra pembangunan.
Direktur Eksekutif Yayasan Pemberdayaan Jamasy Cendekia (YPJC), Owin Jamasy Jamaluddin, yang tampil sebagai pemateri utama, menyampaikan bahwa kerja sama multipihak tidak dapat dibangun secara instan. Menurutnya, awal dari proses kolaborasi justru berangkat dari inisiatif seorang individu untuk membuka ruang pertemuan.
“Geraknya dimulai dari satu langkah kecil, satu orang yang mau membuka pintu. Dari sana, pintu lainnya akan menyusul,” ujarnya.
Owin menyoroti bahwa bentuk kolaborasi paling kokoh lahir dari perjumpaan gagasan, bukan semata-mata proyek fisik. Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan kolaborasi hanya dapat dijaga oleh komitmen kolektif, bukan oleh banyaknya aktivitas yang dijalankan.
Dalam paparannya, Owin mengaitkan kolaborasi dengan kerangka perubahan perilaku sosial: awareness, commitment, action, dan maintenance. Keempat tahap ini, katanya, perlu dipahami sebagai siklus panjang yang memerlukan konsistensi.
“Kolaborasi adalah perjalanan, bukan tujuan cepat. Ada proses yang harus dirawat bersama,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan prinsip Collaborative Governance yang menempatkan sinergi lintas sektor sebagai inti keberlanjutan pembangunan. Tanpa keterhubungan antarpelaku, menurutnya, upaya pembangunan akan berjalan parsial dan sulit mencapai dampak jangka panjang.
Lebih lanjut, Owin memaparkan tiga fase penting dalam kerja kolaboratif:
1. Pra-kolaborasi — membangun rasa percaya dan kesamaan tujuan,
2. Fase kolaborasi — menata pembagian peran serta mobilisasi sumber daya,
3. Pascakolaborasi — memastikan evaluasi, tindak lanjut dan keberlangsungan program.
Di depan para peserta, YPJC juga menegaskan komitmennya menjadi motor penggerak pendekatan pembangunan kolaboratif. Fokus ini mencakup peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan jejaring multipihak, dan penyediaan ruang diskusi yang inklusif.
“YPJC yakin bahwa pondasi pembangunan yang kuat bertumpu pada kepercayaan antaraktor dan kemauan untuk berjalan bersama. Karena itu, kami akan terus menghadirkan model pembangunan yang memberi peran besar kepada masyarakat,” kata Owin.
Ia pun memberikan apresiasi kepada pemerintah yang dinilai semakin membuka diri terhadap metode kolaboratif dan partisipatif. Kebijakan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, menurutnya, merupakan kunci keberhasilan program pembangunan modern.
Mengakhiri sesinya, Owin berharap workshop tersebut mampu memperkuat hubungan dan kerja sama lintas sektor di berbagai tingkatan.
“Kolaborasi adalah jalan menuju kemandirian dan pemberdayaan berkelanjutan. Semua pihak harus berjalan bersama agar keberlanjutan benar-benar bisa diwujudkan,” tutupnya.






