Mengenal “Karuhun” Pajampangan Sukabumi

FOTO: Hulu Sungai Cikaso inilah awal Mbah Emas dan Tiga saudaranya tiba di wilayah Pajampangan dan merekalah Karuhun Pajampangan.| net/istimewa

LINGKARPENA.ID | Wilayah Selatan Sukabumi, atau orang lebih mengenalnya dengan sebutan Pajampangan, banyak menyimpan kisah mistis dan heroik yang tak kalah menarik dari kisah kisah lain yang ada di Nusantara.

Salah satu kisah yang sangat menarik untuk dikulik adalah soal Karuhun (leluhur) Pajampangan. Untuk sekedar mengenal dan mengenang jasa para Karuhun Pajampangan lingkarpena.id mengulas bunga rampai kisah hidup para leluhur Pajampangan.

1. Mbah Emas

Raden Mas Surawijangga atau lebih populer dengan sebutan Mbah Emas ini termasuk salah satu Karuhun warga Pajampangan. Konon kabarnya Mbah Emas adalah seorang ningrat keturunan Galuh Ciamis. Beliau adalah putra dari Adipati Jagabaya atau dikenal dengan julukan Dalem Sawidak.

Pada saat perang Pangeran Diponegoro, daerah Galuh dan Panjalu diperintah oleh Mataram. Saat itu daerah tersebut dibawah kekuasaan Belanda. Untuk mencegah pasukan Pangeran Diponegoro di sekitar Sungai Citanduy. Mbah Emas menentang perintah itu dan beliau berpihak pada pergerakan Pangeran Diponegoro.

Baca juga:  Catatan SMSI Jelang 2024: Soal Media, Jokowi Masih Adil 

Karena kemelut saat itu, Mbah Emas beserta ke empat adiknya, tiga laki laki dan satu perempuan, pergi secara diam diam dengan diikuti oleh 40 kepala keluarga. Pelarian mereka menyusuri pantai Selatan Pulau Jawa dan selanjutnya menyusuri sungai Cikaso ke arah hulu. Sampailah disebuah peupeuntasan (penyebrangan), disitulah Mbah Emas melakukan babat alas (membuka wilayah).

2. Mbah Karangbolong

Mbah Karangbolong nama aslinya adalah Raden Mas Martanagara. Dia adalah saudara laki laki yang pertama dari Mbah Emas. Dalam pelariannya beliau menetap di Kampung Karadenan (sekarang Cibitung). Setelah meninggal dunia kemudian beliau dimakamkan di daerah Karangbolong, Hutan Lindung Jati.

3. Mbah Cigangsa

Baca juga:  Jembatan Kuning Bagbagan Riwayatmu Dulu

Nama asli dari Mbah Santri Dalem atau Mbah Cigangsa adalah Raden Surianatamanggala. Dia adik Mbah Emas. Dalam pelariannya Raden Surianatamanggala ini menetap di daerah Cigangsa (Surade) hingga ahir hayatnya.

Eyang Santri Dalem atau Mbah Emas ini terkenal dengan ilmu kesaktiannya. Selain berilmu agama tinggi beliau memiliki ilmu Kanuragan yang tanpa tanding kala itu. Eyang Santri Dalem memiliki adik perempuan bernama Nyimas Suradewi. Beliau begitu sangat menyayangi adik perempuannya ini.

Saat melakukan perjalan Nyimas Suradewi meninggal dunia. Untuk mengenang adiknya itu Eyang Santri Dalem memberi nama wilayah kekuasaannya dengan nama Surade. Konon itulah cikal bakal nama Surade, sebuah kota kecamatan di Selatan Sukabumi.

4. Mbah Bungsu

Raden Bratakusumah adalah saudara ketiga dari Mbah Emas yang turut dalam pelarian ke daerah Jampang. Raden Bratakusumah dikenal dengan sebutan Mbah Bungsu. Meskipun beliau adik laki laki terkecil namun saudara saudaranya begitu menaruh hormat kepada beliau.

Baca juga:  FDSI Gelar Diskusi Bulan Bung Karno: Gerakan Nasional Membumikan Trisakti

Tidaklah heran, karena Mbah Bungsu ini memiliki ilmu agama tinggi dibandingkan saudara lainnya.
Mbah Bungsu membuka kampung dan menetap di hulu Sungai Cicurug Pamerangan (sekarang kampung Purwasedar 2 Jampangkulon).

5. Mbah Beureum

Mbah yang satu ini tidak ada ikatan persaudaraan dengan embah embah sebelumnya. Namun kisahnya sangat erat kaitannya. Nama asli Mbah Beureum adalah Brojonoto. Beliau adalah seorang pemimpin pasukan yang diperintah Kompeni untuk mengejar Mbah Emas dan saudara saudaranya.

Konon dalam pengejarannya itu Mbah Beureum bertarung hebat dengan Mbah Karangbolong dan akhirnya Mbah Beureum tewas meregang nyawa ditangan Mbah Karangbolong. Mbah Beureum alias Brojonoto kemudian dimakamkan disekitar Pantai Karangbolong.

Pos terkait