LINGKARPENA.ID | Sukabumi Selatan, khususnya wilayah VI Jampangkulon, menjadi wilayah penting sejak jaman pendudukan kaum penjajah, Belanda dan Jepang di Indonesia, khususnya di Jawa Barat.
Bukti kolonialisme pendudukan Belanda dan Jepang di Sukabumi Selatan (Pajampangan) dibuktikan dengan adanya sejumlah benda ( bangunan ) peninggalan di kaum penjajah di wilayah tersebut.
Beberapa bukti peninggalan sejarah pendudukan Belanda dan Jepang di Pajampangan antaralain, bangunan Pos Pengintai tentara Jepang yang berlokasi di Kampung Pinangjajar, Desa Sukamukti, Kecamatan Waluran.
Terowongan Belanda di Kampung Bedeng Desa Pasiripis, Bunker Jepang di Cikarang Desa Pasiripis, keduanya berada di Kecamatan Surade.
Sementara bukti peninggalan kaum penjajah yang ada di Kecamatan Ciracap diantaranya Dermaga, bangunan mercusuar dan gedung papak. Ketiganya berada di kawasan Pantai Ujunggenteng.
Bangunan berbentuk Bunker yang ada di Kampung Pinangjajar Waluran dan di Kampung Bedeng serta di Kampung Cikarang Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, berfungsi sebagai pos pengintai tentara Jepang pada Perang Dunia 2 ( 1942-1945).
Bunker Pinangjajar berukuran, tinggi 2 meter dan lebar 3 meter, panjang berkisar 7 meter dan terdapat ruang rahasia dengan kedalam 3 meter, lokasinya berada diatas perbukitan tidak jauh dari Ruas Jalan Nasional Kiaradua-Surade.
Sementara bunker yang ada di Kampung Cikarang , Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, posisi sekarang masuk dikawasan Satuan Radar ( Satrad ) 216 Cibalimbing, dulunya mempunyai fungsi yang sama. Di areal itu terdapat tiga bunker yang memiliki ukuran besar, panjang 13,5 meter, lebar 4,1 meter, tinggi 160 sentimeter. Dilengkapi dua pintu. Lebar pintu 116 sentimeter, tinggi 100 sentimeter, kedalaman 490 sentimeter. Ada empat lubang pada pintu tersebut, berukuran panjang 56 sentimeter, dan tinggi 25 sentimeter.
Pada bunker ke dua, memiliki panjang 5,2 meter, lebar 3, 24 meter, tinggi 170 sentimeter. Dan bunker ketiga, panjang 140 sentimeter, lebar 5 meter, dan memiliki satu pintu, tinggi 184 sentimeter, lebar 180 sentimeter dengan satu jendela ukuran tinggi 56 sentimeter dan lebar 25 sentimeter.
Bukti peninggalan sejarah lainnya adalah bangunan terowongan yang ada di Kampung Bedeng, Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Bangunan tersebut merupakan bekas peninggalan Belanda. Terowongan diketahui merupakan bagian dari rel kereta api.
Terowongan Cikarang memiliki panjang sekitar 10 meter,lebar tujuh meter dan memiliki tinggi lima meter. Lokasinya berada di perbukitan, sekitar 200 meter dari Sungai Cikarang dan berada di lahan yang kini ditumbuhi semak belukar.
Dermaga, Gedong Papak, Dan bangunan bekas mercusuar, yang ada dikawasan Pantai Ujunggenteng merupakan bukti peninggalan jaman kolonial Belanda. Sayang bangunan bernilai sejarah kini sudah hilang, dan yang adapun nyaris punah.
Gedung papak pada dekade 80 an masih kokoh berdiri di kawasan Pantai Ujunggenteng. Sayang kini tinggal kenangan. Mereka yang hidup di era 70 an akan sangat mengenal adanya gedung papak dan bangunan mercusuar di kawasan Pantai Ujunggenteng. Peninggalan sejarah yang masih tersisa di sana, meskipun nyaris punah, adalah bekas dermaga, atau warga mengenalnya dengan sebutan bagal batre.
Gedung papak memiliki fungsi sebagai markas tentara Belanda, dan mercusuar dibangun disana difungsikan sebagai pemberi tanda dan pengatur lalu lintas laut pada masanya dulu. Sementara Bagal batere berfungsi sebagai tempat bersandar kapal dan armada Belanda yang keluar masuk lewat perairan Ujunggenteng.
Bagal batre sendiri menjadi saksi bisu migrasinya suku Jawa besar besaran ke Sukabumi Selatan dulu. Dimana waktu itu Bangsa Belanda membawa warga suku Jawa Timur yang dijanjikan akan dipekerjakan di Suriname. Padahal rombongan suku Jawa itu dibawa ke perkebunan kelapa dan karet yang ada di wilayah Kecamatan Ciracap ( Jaringao dan sekitarnya ). Di Bagal batere inilah rombongan itu diturunkan untuk kemudian diangkut dengan kendaraan dan ditempatkan di perkebunan milik Belanda.
Kawasan Ujunggenteng dijadikan basis pertahanan strategis oleh armada perang Belanda waktu itu. Ini setidaknya karena Ujunggenteng merupakan pintu keluar masuk dengan laut internasional
Keberadaan bukti sejarah itu merupakan salah satu catatan penting sejarah bangsa kita. Bahwa Jepang dan Belanda pernah membangun kekuatan angkatan perangnya di sini (Cibalimbing dan Ujunggenteng ).






