“Berdikari dalam Pikiran, Bersatu dalam Perjuangan, Mahasiswa Pelopor Persatuan Bangsa.”
SUKABUMI KOTA – Momentum 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia harus menjadi ruang refleksi bagi seluruh generasi bangsa, khususnya mahasiswa. Kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati melalui seremoni, tetapi harus menjadi kesempatan untuk menilai kembali perjalanan bangsa, membaca persoalan hari ini, serta menentukan arah perjuangan generasi muda ke depan.
Atas dasar semangat tersebut, Simposium Kebangsaan Mahasiswa: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia diselenggarakan dengan mengangkat tema “Berdikari dalam Pikiran, Bersatu dalam Perjuangan, Mahasiswa Pelopor Persatuan Bangsa.”
Simposium ini menjadi ruang intelektual dan dialog bagi mahasiswa untuk membicarakan kembali makna kemerdekaan sekaligus posisi mahasiswa dalam kehidupan kebangsaan.
81 TAHUN MERDEKA, PERJUANGAN BELUM SELESAI
Delapan puluh satu tahun perjalanan Indonesia menunjukkan berbagai capaian yang patut diapresiasi. Namun, kemerdekaan juga harus dilihat secara kritis karena masih terdapat berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan rakyat.
Ketimpangan sosial dan ekonomi, persoalan pendidikan, kualitas demokrasi, kesempatan kerja, persoalan lingkungan, perkembangan teknologi, serta berbagai bentuk ketidakadilan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Karena itu, pertanyaan tentang kemerdekaan tidak boleh berhenti pada “kapan Indonesia merdeka?”, tetapi harus dilanjutkan dengan pertanyaan:
“Sejauh mana rakyat Indonesia benar-benar merasakan kemerdekaan?”
Dan yang tidak kalah penting:
“Apa yang harus dilakukan generasi muda untuk melanjutkan cita-cita kemerdekaan?”
MAHASISWA HARUS BERDIKARI DALAM PIKIRAN
Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital, mahasiswa menghadapi tantangan baru. Informasi dapat diperoleh dengan cepat, tetapi kemampuan untuk memeriksa kebenaran, memahami konteks, dan membangun argumentasi tidak selalu berkembang secepat teknologi.
Mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi konsumen informasi.
Mahasiswa harus menjadi subjek yang mampu membaca, mengkritisi, menguji, dan menghasilkan pengetahuan.
Berdikari dalam pikiran berarti membangun kemandirian intelektual, keberanian berpikir kritis, serta kemampuan untuk mempertanggungjawabkan setiap gagasan berdasarkan pengetahuan dan fakta.
PERSATUAN TIDAK BERARTI KESERAGAMAN
Di tengah keberagaman organisasi, pemikiran, dan latar belakang mahasiswa, persatuan menjadi kebutuhan yang semakin penting.
Perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan. Perbedaan justru harus menjadi kekuatan untuk membangun dialog dan menemukan titik temu.
Persatuan mahasiswa harus dibangun melalui kesediaan untuk berdialog, menghormati perbedaan, dan bekerja bersama untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.
Gerakan mahasiswa membutuhkan ruang konsolidasi yang terbuka, kritis, dan egaliter agar berbagai kelompok dapat menemukan agenda bersama tanpa harus kehilangan identitas dan karakter masing-masing.
MENGHINDARI FRAGMENTASI, MENGHADIRKAN SUKABUMI PLUS
Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan terbuka, para peserta simposium turut menyampaikan sejumlah gagasan mengenai arah gerakan mahasiswa di Sukabumi ke depan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kecenderungan fragmentasi gerakan mahasiswa yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat melemahkan daya kritis, daya tawar, serta kemampuan mahasiswa dalam merespons berbagai persoalan masyarakat.
Karena itu, dibutuhkan ruang baru yang mampu mempertemukan berbagai organisasi, kelompok, komunitas, dan elemen gerakan mahasiswa di Sukabumi dalam semangat dialog, solidaritas, dan kerja bersama.
Dari diskusi tersebut mengemuka gagasan untuk menghadirkan “Sukabumi Plus” sebagai ruang gerakan bersama yang inklusif dan terbuka bagi berbagai kelompok mahasiswa.
Sukabumi Plus tidak dimaksudkan untuk menggantikan organisasi maupun identitas gerakan yang telah ada. Sebaliknya, ruang ini diharapkan menjadi titik temu untuk mempertemukan berbagai perbedaan, menyatukan agenda bersama, serta membangun respons kolektif terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat Sukabumi.
Setiap organisasi dan kelompok tetap memiliki identitas, karakter, serta independensinya masing-masing. Namun, pada persoalan-persoalan tertentu yang menyangkut kepentingan publik, mahasiswa harus mampu duduk bersama, berdiskusi, melakukan kajian, membangun solidaritas, dan mengambil langkah bersama.
Sukabumi Plus diharapkan menjadi ruang untuk:
* mempertemukan berbagai kelompok gerakan mahasiswa;
* membuka ruang dialog lintas organisasi;
* membangun tradisi intelektual dan kajian bersama;
* memperkuat solidaritas mahasiswa;
* menyusun agenda bersama berdasarkan persoalan rakyat;
* merespons persoalan publik secara kolektif;
* serta membangun eskalasi gerakan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat.
MEMBACA PERSOALAN: INTERNASIONAL, NASIONAL, HINGGA KEDAERAHAN
Sukabumi Plus juga diarahkan untuk memperluas ruang baca mahasiswa terhadap berbagai persoalan, mulai dari persoalan internasional, nasional, hingga kedaerahan.
Mahasiswa Sukabumi tidak boleh terputus dari dinamika dunia. Persoalan global seperti krisis kemanusiaan, ketimpangan ekonomi, konflik, perubahan iklim, perkembangan teknologi, hingga dinamika geopolitik harus mampu dibaca dan dikaitkan dengan kondisi nasional serta realitas masyarakat di daerah.
Begitu pula berbagai persoalan nasional—demokrasi, pendidikan, ekonomi, ketenagakerjaan, lingkungan, kebijakan publik, serta ketimpangan sosial—harus mampu diterjemahkan ke dalam pembacaan yang lebih konkret terhadap persoalan masyarakat Sukabumi.
Dengan demikian, gerakan mahasiswa tidak berhenti pada reaksi terhadap persoalan lokal secara parsial, tetapi mampu membangun rantai kesadaran dan perjuangan dari bawah ke atas (bottom-up).
Persoalan yang lahir dari masyarakat harus didengar, dikaji, didokumentasikan, dikonsolidasikan, kemudian didorong menjadi perhatian publik dan agenda bersama.
Sukabumi Plus diharapkan menjadi ruang untuk mengangkat persoalan dari akar rumput menuju ruang publik yang lebih luas.
Dari persoalan warga, menjadi isu kampus.
Dari isu kampus, menjadi isu gerakan mahasiswa.
Dari isu gerakan mahasiswa, menjadi perhatian publik.
Dari perhatian publik, didorong menjadi agenda perubahan dan eskalasi gerakan yang terukur, kritis, serta berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa Sukabumi diharapkan tidak hanya hadir ketika persoalan telah menjadi besar, tetapi mampu mendeteksi, membaca, mengkaji, dan mengeskalasi persoalan sejak dari akar rumput.
Bottom-up bukan sekadar metode gerakan, tetapi cara membangun demokrasi pengetahuan dan perjuangan: mendengar suara masyarakat, memahami persoalannya, menyusun argumentasi, membangun konsolidasi, lalu mendorong perubahan melalui kekuatan kolektif.
Dari akar rumput kita membaca persoalan.
Dari persoalan kita membangun kesadaran.
Dari kesadaran kita membangun konsolidasi.
Dari konsolidasi kita melakukan eskalasi.
Dan dari eskalasi kita mendorong perubahan.
NARASUMBER DAN PESERTA SIMPOSIUM
Simposium Kebangsaan Mahasiswa menghadirkan berbagai perspektif dari unsur organisasi mahasiswa, akademisi, serta representasi lembaga kemahasiswaan.
Adapun narasumber yang terlibat dalam forum ini antara lain:
1. Aris Gunawan — Ketua DPC GMNI Sukabumi Raya
2. Ade Roni Ronaldo — Ketua HMI Sukabumi
3. Rizki Kurnia — Ketua SEMMI Kota Sukabumi
4. Fahmi Fauzi — Ketua PMII Kota Sukabumi
5. Adi Rizki — Ketua KAMMI Sukabumi Raya
6. Diki Agustiana — Ketua IMM Sukabumi Raya
7. Nuchracha Alhuda Hasnda, S.H., M.H. — Dosen Hukum Universitas Nusa Putra
8. Ahmad Brick Abdul Azis — Ketua BEM Universitas Nusa Putra
9. Rahmadi I.M. — Koordinator Wilayah Priangan Barat BEMNUS Jabar
Kehadiran para narasumber tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ruang dialog lintas organisasi dan lintas perspektif. Perbedaan latar belakang organisasi maupun sudut pandang tidak ditempatkan sebagai sekat, melainkan sebagai kekayaan dalam membangun diskursus kebangsaan.
Selain para narasumber, simposium juga diikuti oleh beragam peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, pemuda, aktivis, organisasi kemahasiswaan, komunitas, serta elemen masyarakat lainnya yang memiliki perhatian terhadap masa depan gerakan mahasiswa dan kehidupan kebangsaan.
Keberagaman peserta tersebut diharapkan menjadi modal sosial untuk membangun ruang perjumpaan yang lebih luas dan inklusif bagi mahasiswa Sukabumi.
MAHASISWA TIDAK BOLEH MENJADI PENONTON SEJARAH
Mahasiswa memiliki posisi strategis dalam kehidupan bangsa. Sejarah telah menunjukkan bahwa pemuda dan mahasiswa memiliki peran dalam berbagai momentum perubahan Indonesia.
Namun, kepeloporan mahasiswa hari ini tidak cukup hanya diwujudkan melalui kritik.
Mahasiswa harus mampu mengubah pengetahuan menjadi gagasan, gagasan menjadi gerakan, dan gerakan menjadi kebermanfaatan bagi masyarakat.
Pengabdian masyarakat, penguatan demokrasi, advokasi kepentingan rakyat, riset, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta berbagai bentuk kerja sosial merupakan bagian dari perjuangan mahasiswa dalam mengisi kemerdekaan.
EMPAT POKOK PEMBAHASAN
Simposium Kebangsaan Mahasiswa mengangkat empat pokok pembahasan yang saling berkaitan:
1. Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan
Membaca kembali capaian, tantangan, dan cita-cita kemerdekaan yang masih harus diperjuangkan.
2. Berdikari dalam Pikiran
Membangun tradisi intelektual, literasi informasi, berpikir kritis, dan kemandirian mahasiswa.
3. Bersatu dalam Perjuangan
Mendorong konsolidasi, dialog lintas organisasi, solidaritas, dan persatuan mahasiswa.
4. Mahasiswa Pelopor Persatuan Bangsa
Menegaskan kembali peran mahasiswa dalam demokrasi, pengabdian masyarakat, dan pembangunan nasional yang berpihak kepada kepentingan rakyat.
PERNYATAAN SIKAP
Melalui momentum ini, mahasiswa didorong untuk:
* Menghidupkan kembali tradisi intelektual dan budaya kritis.
* Menjaga independensi dalam berpikir dan bersikap.
* Menolak fragmentasi yang melemahkan persatuan gerakan mahasiswa.
* Membuka ruang dialog lintas organisasi dan kelompok.
* Mendorong hadirnya Sukabumi Plus sebagai ruang konsolidasi, kajian, dialog, dan kolaborasi gerakan.
* Membaca persoalan secara utuh dari tingkat internasional, nasional, hingga kedaerahan.
* Mengangkat persoalan masyarakat dari akar rumput melalui pendekatan bottom-up.
* Membangun eskalasi isu berdasarkan kajian, fakta, kebutuhan masyarakat, dan kekuatan kolektif.
* Mengawal demokrasi dan kepentingan masyarakat.
* Memperkuat pengabdian mahasiswa kepada rakyat.
* Menjadikan kemerdekaan sebagai tanggung jawab yang harus terus diisi dan diperjuangkan.
DARI FRAGMENTASI MENUJU KONSOLIDASI
81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk menyadari bahwa sejarah bukan hanya sesuatu yang dikenang, tetapi sesuatu yang harus dilanjutkan.
Mahasiswa hari ini memiliki tanggung jawab untuk menentukan bagaimana kemerdekaan akan diisi, bagaimana persatuan akan dirawat, dan bagaimana masa depan bangsa akan dibangun.
Di tengah berbagai persoalan bangsa dan masyarakat Sukabumi, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam sekat-sekat kelompok yang membuat gerakan berjalan sendiri-sendiri.
Yang dibutuhkan bukan keseragaman, tetapi kesediaan untuk bersatu dalam agenda perjuangan yang lebih besar.
Sukabumi membutuhkan mahasiswa yang mampu berpikir secara mandiri, berdialog secara terbuka, membaca persoalan secara kritis, bergerak secara kolektif, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Gagasan Sukabumi Plus menjadi salah satu ikhtiar untuk membuka ruang tersebut: ruang di mana perbedaan tidak menjadi alasan untuk berjarak, tetapi menjadi energi untuk menemukan titik temu dan membangun kerja bersama.
Ruang yang mampu membaca persoalan global, menghubungkannya dengan persoalan nasional, menemukan dampaknya di tingkat daerah, mendengar suara akar rumput, lalu mengubahnya menjadi kesadaran, konsolidasi, dan eskalasi gerakan.
“Kita tidak cukup hanya mewarisi kemerdekaan. Kita harus mampu mengisinya dengan pikiran yang merdeka, perjuangan yang bersatu, dan keberpihakan kepada rakyat.”
BERDIKARI DALAM PIKIRAN.
BERSATU DALAM PERJUANGAN.
MAHASISWA PELOPOR PERSATUAN BANGSA.
SIMPOSIUM KEBANGSAAN MAHASISWA
REFLEKSI 81 TAHUN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Minggu, 23 Agustus 2026
Narahubung Media:
Nama: Aris Gunawan (Ketua DPC GMNI Sukabumi Raya)






