Kegiatan budaya ngabungbang di Padepokan Munding Wangi Surade. [Foto: Ist]

“Ngabungbang” Kegiatan Rutin Malam 14 Mulud di Padepokan Munding Wangi Surade

RELIGI

Lingkarpena.id, SUKABUMI – Pada dunia ilmu kebatinan, kanuragan dalam sebuah perguruan Silat maupun keilmuan yang berkaitan dengan ritual terdapat salah satu kebiasaan kegiatan rutin tahuanan disebut ‘Ngabungbang’.

Ngabungbang biasanya dilaksanakan dalam kurun waktu setahun sekali. Dimana terdapat pada bulan Rabi’ul awal ‘Mulud‘ tepatnya malam tanggal 14 sering dijadikan malam istimewa.

Baca juga:  Komunitas Sukabumi Walagri Akan Renovasi 2 Rutilahu dan Adakan Bazar Murah di Pajampangan

Ngabungbang berasal dari kata “nga” dan “bungbang”. “Nga” berarti ngahijikeun atau menyatukan. “Bungbang” berarti membuang atau membersihkan.

Baca juga:
Poskab Sapu Jagat Pusat Gelar Maulid Nabi dan Tabligh Akbar

Seperti yang biasa dilakukan di Padepokan Munding Wangi, Kampung Sukamaja, Desa Pasiripis Kecamatan Surade itu. Setiap tahun selalu diadakan budaya ngabungbang atau mandi suci.

Baca juga:  LaNyalla: Ziarah ke Makam Penyebar Agama Islam Utusan Kesultanan Cirebon di Ciamis

Ketua Padepokan Munding Wangi Aa Soleh mengatakan, ngabungbang merupakan ritual suci guna menyucikan diri insan selama setahun lamanya.

“Ya, bila diartikan secara keseluruhan, ngabungbang adalah mandi suci dengan niat menyatukan cipta, rasa dan karsa. Hal itu dilakukan untuk membuang semua perilaku tidak baik, lahir atau pun batin,” ucap Aa Soleh, Sabtu (30/10) di Surade.

Tinggalkan Balasan