Dikatakannya, dalam setiap tahunnya di Padepokan Munding Wangi tidak kurang dari 100 orang. Malam 14 Mulud menjadi penantian bagi sebagian murid di Padepokan Munding Wangi itu.
“Aa hanya membantu saja. Para alumni Padepokan banyak yang minta meski harus ada ngabungbang,” terangnya.
Pelaksanaan ngabungbang sendiri biasanya dilaksanakan setelah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di laksanakan di Padepokan Munding Wangi itu.
| Baca juga: |
| Walikota Hadiri Maulid Nabi di Masjid Al-Muttaqin Kadulawang, Ini Pesan Fahmi |
Maulid Nabi dilaksanakan di Padepokan Munding Wangi selama dua hari dua malam. Perayaan dimulai dari tanggal 12 Rabi’ul awal ‘Mulud’ hingga di akhir malam 14 dengan kegiatan ngabungbang.
Murid Padepokan beserta jemaah ngabungbang lainnya tidak cuma dari warga Surade Sukabumi saja. Mereka ada yang dari Banten, Bogor, Tasikmalaya, Ciamis dan sebagian wilayah di Jawa Barat.
“Bagi mereka yang meyakini soal ngabungbang, setiap tahun selalu datang dan turut serta. Ya, ini soal keyakinan masalah ngabungbang. Tujuannya baik, mandi kan, membersihkan badan kita bukan lain-lain,” tambah Aa Soleh, sambil tertawa.
Redaksi: Lingkarpena.id
Redaktur: Akoy Khoerudin






