LINGKARPENA.ID | Kepala Dinas Pedagangan dan Industri (Disdagin) Kabupaten Sukabumi Dani Tarsoni sebut bahwa memiliki 24 ribu Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tercatat dalam data basenya.
“Kita punya berapa unggulan bermacam-macam produk IKM dan yang terdata atau masuk data di kita saat ini ada 24.000,” ucapnya.
Untuk memudahkan inventasir dan monitoring perkembangan IKM tersebut, Dani mengatakan bahwa terdapat pengelompokan jenis dan bidang usaha yang digeluti para pelaku IKM.
“Pola pemilihannya kan secara umumnya begini, IKM itu dikelompokkan berdasarkan jenis usahanya, misalkan olahan pangan itu dulu non pangan ada logam ada jasa yang ada di kelompokan dulu itu kita masukkan dalam kelompok itu,” bebernya.
“Nah, kemudian mereka itu setelah kelompok kelompok jenis-jenis tadi jenis industri tadi jenis usahanya tadi ya baru kita bikinkan pemeringkatan, untuk memudahkan proses pembinanaan,” sambung Dani.
Hal itu dilakukan, kata Dani untuk menciptakan atau mencetak pelaku usaha yang mandiri, Ia mencontohkan seperti IKM Mochi An-nur di Cisaat dan Kripik Tempe Kahla di Nagrak menurutnya sudah mandiri, dengan dorongan dari Disdagin Kabupaten Sukabumi.
“Sudah selesai (pembinaan/suppoting Dinas) bahkan dia (Pelaku IKM) sudah ekspor, kan semuanya ujungnya seperti itu agar mandiri. Kalau sudah mandiri ya kita kalau dibantu oleh kita, mereka wajib mencetak mencetak anggota ya IKM-IKM baru lagi gitu sebagai wirausaha baru, ya minimal sebagai mitra lah,” ujarnya.
“Nanti berharap dibeberapa daerah yang sudah ada embrionya, kalau dicatatan kita sudah yang besar itu ada 29 embrio IKM, kita sedang pelajari nih yang bisa kita ciptakan lagi untuk jadi sentra IKM, target saya sih mudah-mudahan tahun ini nih tahun 2025 ini bisa terwujud 5 sentra, sedang kita pelajari sedang kita finalkan mana dulu,” pungkas Dani.






