Oleh : Lukman A Salendra
LINGKARPENA.ID | Pemilihan Umum (Pemilu) bakal berlangsung serentak di tahun yang sama, tahun 2024, memilih presiden, anggota legislatif dan, memilih kepala daerah. Seru pastinya. Para kontestan sudah mulai bersiap dari fulus hingga akal bulus. Ih! Ini kontestasi politik yang menyita banyak energi. Pesta demokrasi, Bro. Yang jelas, para kontestan kudu punya jurus jitu, semacam mantra, kalau ingin menang.
Nah, ngomong mantra, saya teringat sebuah novel berjudul Mantra Pejinak Ular.
Novel tersebut kalau dibaca secara saksama, memang menarik terkait situasi hingar-bingar politik. Baiklah, saya kupas sedikit kisahnya di sini.
Adalah sosok Abu Kasan Sapari dalam novel besutan mendiang Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular. Sang tokoh merupakan protagonis yang menarik dimaknai dalam persiapan pemilu.
Mantra Pejinak Ular mengisahkan tokoh utama yang bernama Abu Kasan Sapari, sang sosok yang merasakan langsung hidup di bawah cara-cara kotor paham suatu rezim kala itu yang telah menyuntikkan energi negatifnya ke segala lini dan aspek.
Dalam novel tersebut, Sosok Abu Kasan Sapari yang memiliki kemampuan menaklukkan ular dengan ajian atau mantranya yang didapat dari seorang kakek, adalah seorang idealis yang punya sikap bagaimana membawakan narasi“kesenian” di dalam kancah politik lokal. Dia tidak menjual jiwa seninya, harkat dan martabatnya demi kekuasaan dan kepentingan golongan tertentu atau mesin politik yang mengiming-iminginya dengan janji-janji.
Abu tampil cemerlang dengan idealismenya melalui jalan kesenian (mendalang) yang tidak bisa dibeli oleh kelompok atau si mesin politik, si antagonis yang melegalkan cara-cara menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan dan memuaskan hawa nafsunya.
Dalam konteks hari ini, siapa-siapa sosok Abu Kasan Sapari? Masih adakah yang seperti dia? Lalu apa mantra pejinak pemilu yang sesungguhnya? Apakah juga mantra pejinak ular yang dimiliki Abu Kasan Sapari dapat digunakan untuk menjinakkan kemenangan pemilu?
Uang dan popularitas dalam pemilu boleh jadi kekuatannya serupa mantra pejinak ular. Uang boleh jadi mantra yang sebenarnya, begitu pragmatis ketimbang jampi-jampi. Langsung terasa. Popularitas saja tidak cukup, popularitas bisa dibeli dengan uang di jaman kekinian.
Mantra pemilu sejatinya adalah integritas seorang calon terhadap apa dan bagaimana kemarin, kini dan nanti yang dikerjakannya dalam konteks pengkhidmatan kepada masyarakat. Yeah, tapi mungkin ini nonsens.
Masyarakat hari ini boleh jadi cukup cerdik, bagaimana mendapatkan keuntungan di tengah bergelimangnya kesempatan. Bisa jadi ambil uangnya jangan coblos orangnya. Tetapi bisa terjadi juga siapa yang ngasih uang tunai, itulah dia yang akan dipilih. Banyak warna dan cerita. Tapi, cerdik saja tidak cukup. Masyarakat sejatinya cerdas dan bertanggung jawab serta kudu berkesadaran untuk turut serta memperbaiki keadaan dengan memilih pemimpin berdasarkan penglihatan mata batin hingga menemukan sosok pemimpin ideal pujaan masyarakat.
Masalahnya, betapa sulit mencari pemimpin ideal bak mencari jarum di tumpukan rongsokan. Sedihnya juga, tawaran visi dan misi para calon si kontestan yang tersaji, sedikit banyaknya cuma bualan dan siulan. Iya nggak?
Jadinya masyarakat pun boleh jadi apatis, senang yang instan-instan saja. Padahal partisipasi masyarakat berupa “donor” suara di bilik-bilik TPS sangat menentukan kepemimpinan partisipatif ke depan.
Persoalannya lagi-lagi adalah uang. Uang menjadi semacam mantra yang sanggup menjinakkan kekuasaan. Masyarakat tentu saja berada dalam spektrum berbahaya apabila terus dicekoki oleh pembodohan politik transaksional.
Oke kita butuh sebuah mantra yang benar-benar dibutuhkan masyarakat Indonesia. Kita butuh mantra untuk menjinakkan pemilu, sehingga pemilu kali ini menjadi entry point dalam kehidupan sosial berbangsa, mengukuhkan demokrasi.
Seperti yang dapat kita ambil ibroh atau pelajaran dari Novel Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular sejatinya amanat hati nurani rakyat yang secara personifikatif adalah sikap Abu Kasan Sapari dalam melakoni prosa kehidupannya, menolak menggadaikan dirinya kepada bentuk-bentuk keculasan dan pembodohan suatu mesin politik.
Ah, mantra pejinak pemilu itu fulus?
Pemimpin Redaksi Lingkarpena.id






