LINGKARPENA.ID | Berkunjung ke suatu daerah rasanya belum lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya. Di Kabupaten Sukabumi, salah satu panganan tradisional yang masih bertahan hingga kini adalah enye, camilan berbahan dasar singkong yang memiliki tekstur tipis, renyah, dan cita rasa gurih.
Di Kecamatan Waluran, pembuatan enye masih dilakukan secara tradisional. Setiap lembar enye melewati proses yang cukup panjang, mulai dari pemilihan singkong, diparut, dicampur bumbu, dicetak tipis, dikukus, dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering, kemudian digoreng hingga mengembang dan renyah.
Salah satu sentra produksi enye berada di Kampung Cikaret, Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran. Dari kawasan ini, camilan khas Sukabumi diproduksi setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar, baik dari dalam maupun luar daerah.
Selain mempertahankan resep turun-temurun, para pengrajin juga menghadirkan beragam varian rasa, seperti original, pedas, kencur, daun bawang, hingga daun jeruk. Ragam pilihan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat kuliner tradisional.
Dedi Aryanto, warga Kecamatan Waluran, mengatakan produksi enye telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat sejak puluhan tahun lalu. Menurutnya, hampir setiap kampung di Waluran memiliki pengrajin enye, meski Kampung Cikaret menjadi wilayah dengan jumlah pengrajin terbanyak.
“Pengrajin enye memang tersebar di beberapa kampung di Kecamatan Waluran. Namun yang paling banyak berada di Kampung Cikareng. Produk dari sini sudah cukup dikenal karena kualitasnya tetap dijaga, mulai dari bahan baku hingga proses pembuatannya,” ujar Dedi.
Sementara itu, Maesaroh (46), salah seorang pengrajin enye di Kecamatan Waluran, mengungkapkan bahwa menjaga kualitas menjadi hal utama dalam setiap proses produksi. Ia memilih menggunakan singkong hasil panen petani lokal agar cita rasa enye tetap khas.
“Kami masih mengerjakan hampir seluruh proses secara manual. Singkong dipilih yang bagus, kemudian diparut, dibumbui, dikukus, dijemur sampai benar-benar kering sebelum digoreng. Memang membutuhkan waktu beberapa hari, tetapi hasilnya lebih renyah dan rasanya tetap terjaga,” kata Maesaroh.
Menurutnya, penggunaan bahan baku lokal tidak hanya menghasilkan enye dengan kualitas yang baik, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi para petani di sekitar Waluran.
Di tengah menjamurnya camilan modern, enye tetap mampu mempertahankan eksistensinya. Tekstur yang tipis, rasa yang khas, serta proses pembuatan yang masih mengandalkan keterampilan para pengrajin menjadi nilai lebih yang sulit ditemukan pada makanan ringan lainnya.
Bagi masyarakat Sukabumi, enye bukan sekadar camilan. Di balik setiap kepingnya tersimpan cerita tentang tradisi, ketekunan, serta semangat para pengrajin yang terus menjaga warisan kuliner daerah agar tetap dikenal dan dinikmati oleh generasi mendatang.






