LINGKARPENA.ID | Malam kembali datang di rumah keluarga Eeng dan Reni. Namun, ada satu hal yang belum berubah sejak hampir sebulan terakhir: kursi yang biasanya menjadi tempat Riana Pratiwi duduk masih menyimpan penantian.
Riana, putri semata wayang pasangan tersebut, hingga kini belum kembali ke rumahnya di Kampung Kadudampit RT 22/02, Desa Kadununggal, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi.
Hari berganti hari. Harapan keluarga tidak ikut padam. Setiap kabar yang datang tentang kemungkinan keberadaan Riana selalu mereka dengarkan. Tak peduli seberapa jauh lokasi yang disebutkan, keluarga berusaha mendatangi dan memastikan sendiri informasi tersebut.
Bagi Eeng dan Reni, satu petunjuk sekecil apa pun tetap layak diperiksa. Sebab di balik setiap kabar itu, ada harapan bahwa langkah berikutnya akan membawa mereka bertemu kembali dengan putri tercinta.
“Setiap ada informasi selalu diharapkan kebenarannya. Di mana pun yang memberikan informasi, Bapak selalu menyusul. Siapa tahu benar, tetapi ternyata selalu luput,” tutur Reni saat ditemui di kediamannya, Kamis (1/10/2026).
Menyusuri Kabar hingga Leuwiliang
Pencarian kembali dilakukan pada Rabu malam (30/9/2026). Sekitar pukul 20.30 WIB, Eeng bersama sejumlah anggota keluarga dan empat tetangga berangkat menuju wilayah Lewiliang. Mereka berangkat setelah memperoleh informasi yang menyebutkan Riana diduga berada di kawasan tersebut.
Perjalanan malam itu kembali membawa harapan.
Namun setibanya di lokasi, apa yang dicari tidak ditemukan. Informasi yang diterima keluarga ternyata tidak cukup jelas untuk mengarahkan mereka kepada keberadaan Riana. Bahkan, alamat yang diberikan kepada keluarga disebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Sudah kami kabari melalui WhatsApp, tetapi tidak ada nama orang yang dijumpai. Alamat yang diberikan juga ternyata salah,” kata Reni.
Bagi keluarga, situasi semacam itu bukan sekadar perjalanan yang berakhir tanpa hasil. Ada tenaga, waktu, biaya, sekaligus harapan yang kembali harus mereka bawa pulang.
Tak Kenal Lelah Mengejar Jejak
Perjalanan mencari Riana bukan hanya dilakukan oleh orangtuanya. Sejumlah kerabat juga ikut bergerak setiap kali informasi baru muncul.
Cecep, salah seorang saudara dekat keluarga, mengaku pernah menyusuri wilayah Cigombong. Ia bahkan harus berulang kali berpindah lokasi dan bertahan hingga malam untuk memastikan informasi yang diterimanya.
“Kemarin juga sama, waktu saya menyusul ke Cigombong sampai semalaman bolak-balik, bahkan menunggu dan memantau. Tapi informasinya tidak jelas,” ungkap Cecep.
Sementara itu, perhatian terhadap sosok Riana seolah ikut terbawa ke mana pun orang-orang terdekatnya pergi.
Iyan Gonel, yang turut membantu memperhatikan keberadaan Riana, mengaku pernah mengalami momen ketika matanya menangkap seseorang yang sekilas tampak seperti Riana saat melintas di wilayah Cicurug. Ia sempat mengejar untuk memastikan.
Harapan itu kembali muncul sesaat, sebelum akhirnya sirna ketika sosok tersebut ternyata bukan Riana.
“Saya sempat melihat seperti Riana di atas motor. Setelah saya susul dan melihat lebih dekat ternyata bukan,” ujarnya.
Meski demikian, pengalaman itu tidak membuatnya berhenti memperhatikan setiap orang yang ditemui selama perjalanan. “Tapi setiap perjalanan saya tetap memperhatikan, siapa tahu bisa melihat dan menemukan Riana,” sambungnya.
Satu Harapan yang Belum Padam
Hampir satu bulan tanpa kabar pasti tentu bukan waktu yang singkat bagi sebuah keluarga. Namun bagi Eeng dan Reni, pencarian belum selesai.
Mereka masih menunggu kabar yang benar-benar dapat mengarah kepada keberadaan Riana. Setiap informasi akan tetap diperiksa, tetapi keluarga berharap kabar yang disampaikan bukan sekadar dugaan tanpa dasar.
Sebab bagi mereka, sebuah informasi bukan hanya soal pesan yang masuk ke telepon genggam. Di baliknya ada langkah yang harus ditempuh, perjalanan yang harus dilalui, serta harapan besar untuk membawa seorang anak kembali ke rumah.(*)






