KDM Tak Hadir, Wayang Golek Jadi Pelipur Rindu Ribuan Warga di Penutupan Jampang Ngabhuana 3

Ribuan warga Pajampangan saat menyaksikan pagelaran Wayang Golek di acara Jampang Ngabhuana 3 yang berlangsung di Lapang Lodaya Setra, Surade, Minggu (11/10) malam.[Foto: Jajang/lp]

LINGKARPENA.ID | Lautan manusia memadati Lapang Lodaya Setra, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Minggu (11/10/2026) malam. Riuh suara warga, tawa, dan antusiasme penonton menjadi gambaran meriahnya penutupan Jampang Ngabhuana 3, sebuah helaran budaya tahunan yang digelar Paguyuban Jampang Tandang Makalangan.

 

Meski sosok Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM), tak kunjung hadir hingga acara berakhir, semangat warga Pajampangan tak lantas surut. Ribuan orang tetap bertahan, menikmati malam penutupan yang menjadi puncak perhelatan budaya kebanggaan masyarakat Jampang.

 

Sejak kabar mengenai kemungkinan kehadiran KDM berembus, antusiasme masyarakat terasa semakin besar. Nama gubernur yang lekat dengan sapaan akrab “Bapa Aing” itu menjadi magnet tersendiri. Banyak warga berharap dapat melihat langsung sosok pemimpin Jawa Barat yang selama ini mereka kenal melalui berbagai kegiatan dan tayangan di media sosial.

 

Harapan itu memang tak terwujud malam itu. Namun, ketidakhadiran KDM bukan alasan untuk pulang dengan tangan hampa, apalagi mengabaikan rangkaian acara yang telah disiapkan panitia.

 

Bagi warga, Jampang Ngabhuana 3 bukan semata-mata tentang siapa tamu penting yang datang. Lebih dari itu, perhelatan tersebut menjadi ruang berkumpul, bersilaturahmi, sekaligus merayakan kekayaan seni dan budaya Pajampangan.

Baca juga:  Penutupan Sukabumi Expo, Bupati Nobar Wayang Golek

 

Sejumlah warga yang ditemui Lingkarpena.id di lokasi kegiatan mengaku memaklumi ketidakhadiran KDM. Mereka memahami bahwa sebagai gubernur, Dedi Mulyadi memiliki agenda dan tanggung jawab yang padat.

 

Salah seorang warga Kecamatan Tegalbuleud, Kusnadi, mengaku sebenarnya sangat ingin bertemu langsung dengan KDM. Namun, ia memilih menikmati pertunjukan yang menjadi sajian utama malam penutupan.

 

“Kacida hoyongna ningali langsung KDM, namung abdi ngamalum sareng kasibukan beliau. Wengi ieu mah bade fokus nonton wayang,” ujar Kusnadi.

 

Dalam bahasa Indonesia, ia mengaku sangat ingin melihat KDM secara langsung, tetapi memaklumi kesibukan gubernur. Malam itu, ia memilih fokus menikmati pertunjukan wayang golek.

 

Sikap serupa ditunjukkan warga lainnya. Mereka menilai ketidakhadiran KDM tidak perlu menjadi alasan untuk mengurangi kemeriahan acara yang sudah dinantikan masyarakat.

 

“Sebetulnya ingin sekali melihat Pak Gubernur dari dekat. Tetapi kalau memang beliau berhalangan karena kesibukan, kami memahami. Yang penting acara tetap berjalan meriah dan masyarakat bisa menikmati hiburan,” ungkap seorang warga yang hadir di lokasi.

 

Warga lainnya juga mengaku tidak kecewa berlebihan. Menurutnya, Jampang Ngabhuana merupakan kesempatan langka untuk menikmati pertunjukan seni tradisional sekaligus berkumpul bersama keluarga dan kerabat.

Baca juga:  Macan Belang Buyut Rongke Kisah Nyata Bukan Kasat Mata ada di Sukabumi   

 

“Kalau Pak KDM belum bisa datang, tidak apa-apa. Mudah-mudahan lain waktu bisa hadir. Malam ini kami tetap senang karena bisa menonton wayang golek bersama keluarga,” tuturnya.

 

Wayang Golek Jadi Pengobat Rindu

 

Ketika malam semakin larut, perhatian penonton tertuju pada panggung pagelaran wayang golek yang menjadi penutup acara. Pertunjukan seni tradisional Sunda itu seolah menjadi pengobat rindu sekaligus pelipur bagi warga yang sebelumnya berharap dapat bertemu langsung dengan KDM.

 

Gelak tawa penonton, suasana panggung yang hidup, serta daya tarik cerita dan banyolan khas dalang menghadirkan hiburan yang dinikmati berbagai kalangan. Dari anak-anak hingga orang tua, semuanya larut dalam suasana pertunjukan.

 

Bagi sebagian warga, menyaksikan wayang golek secara langsung memberikan pengalaman tersendiri. Di tengah maraknya hiburan modern, kesenian tradisional tetap memiliki tempat istimewa, terlebih ketika disuguhkan dalam perhelatan budaya yang melibatkan masyarakat luas.

 

Kepuasan warga terhadap pertunjukan tersebut menjadi salah satu penanda bahwa kemeriahan Jampang Ngabhuana 3 tidak hanya bertumpu pada kehadiran tokoh publik. Kualitas hiburan, kebersamaan, dan kesempatan menikmati kesenian daerah turut menjadi alasan masyarakat bertahan hingga acara puncak berakhir.

Baca juga:  Kabid Kebudayaan Berikan Dukungan dan Semagat pada Kontingen Binojakrama Kabupaten Sukabumi 

 

Panggung Budaya, Kebanggaan Pajampangan

 

Suksesnya penyelenggaraan Jampang Ngabhuana 3 juga memperlihatkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap upaya pelestarian budaya lokal. Selama rangkaian kegiatan berlangsung, perhelatan ini menjadi ruang ekspresi bagi identitas dan kekayaan tradisi masyarakat Pajampangan.

 

Paguyuban Jampang Tandang Makalangan kembali menghadirkan panggung bagi kebudayaan daerah, sekaligus mengajak masyarakat untuk menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal oleh generasi muda.

 

Di tengah keramaian malam penutupan, ketidakhadiran KDM perlahan bukan lagi menjadi pusat perhatian. Warga justru larut dalam pertunjukan wayang golek, menikmati kebersamaan, dan membawa pulang pengalaman dari sebuah perhelatan budaya yang meriah.

 

Malam itu, ada sosok yang belum berhasil mereka temui. Namun, ada pula hiburan yang berhasil mengobati rasa penasaran, kebersamaan yang mempererat silaturahmi, serta kebanggaan terhadap budaya sendiri yang tetap terjaga.

 

Jampang Ngabhuana 3 pun menutup perhelatannya dengan pesan sederhana: sebuah acara budaya dapat dikatakan berhasil bukan hanya karena banyaknya tokoh yang hadir, melainkan juga karena mampu menghadirkan kebahagiaan, menjaga tradisi, dan meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat yang menjadi bagian di dalamnya.

Pos terkait