Menyoal Isu Megathrust Pesisir Selatan Jawa Barat, LSPR Jakarta Sosialisasi Kesiapsiagaan Masyarakat Sukabumi

FOTO: Momen potobersama seusai kegiatan sosialisasi peningkatan kapasitas berbasis masyarakat dan kearifan lokal potensi bencana Megathrust di Bale Riung Mandalawangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Minggu (5/1/2025).| dok: Lingkarpena.id

LINGKARPENA.ID | Pusat Kajian Crisis and Resilience London School Public Relations (LSPR) Jakarta melakukan sosialisasi kesiap siagaan masyarakat dalam menghadapi bencana Megathrust. Sosialisasi tersebut digelar di Baleriung Mandala Wangi, Kampung Sukamaja, Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu, 5 Januari 2025.

Hadir dalam acara tersebut dosen LSPR sekaligus pakar komunikasi bencana Dr. Muhamad Hidayat, M. I. Kom., (pemateri) sesepuh Bale Riung Mandala Wangi A. Soleh, Unsur Pemerintah Kecamatan Surade, perwakilan Dompet Dhuafa, Unsur komunitas, para pegiat budaya, pegiat lingkungan, relawan dan tokoh masyarakat setempat.

Momen kegiatan sosilalissi LSPR Jakarta yang dihadiri Pemcam Surade, pegiat lingkungan serta Masyarakat Surade.| dok: Lingkarpena.id

Dijelaskan Dr. Hidayat, acara yang digelar itu merupakan langkah awal pihaknya dalam mensosialisasikan bencana kesiapsiagaan sebagai mitigasi potensi tsunami Megathrush di wilayah terdampak.

“Hari ini kami mengadakan pertemuan dengan para tokoh masyarakat dan pegiat serta komunitas. Ini merupakan langkah awal kami dalam sosialisasi Megathrush kepada masyarakat. Hari ini hanya pendataan saja, kedepannya kami akan lakukan hal hal penting terkait dengan kesiap siagaan masyarakat dalam menghadapi Megathrush,” kata Dr. Hidayat kepada Lingkar Pena, di Bale Riung, usai kegiatan.

Baca juga:  Pribahasa "Mulutmu Harimaumu" Ratusan Guru di Sukabumi Geruduk Kantor Camat Sukalarang

Lebih jauh Dr. Hidayat menjelaskan, masyarakat perlu mengetahui risiko yang dihadapi sehingga dapat meningkatkan kapasitas dalam menghadapi ancama Megathrust. Ia juga mengharapkan hal ini tidak sebatas sampai peringatan saja dan menjadi perbincangan hangat di media massa serta media sosial, harus ada upaya-upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang dilakukan agar masyarakat merespon dan memiliki ketahanan yang tinggi terhadap bencana.

“Ya, termasuk perencanaan strategi komunikasi risiko sehingga tujuan komunikasi tercapai dan berdampak baik terhadap penanganan bencana, karena komunikasi merupakan aspek yang krusial,” ujarnya.

Pesan peringatan terkait bencana, papar Dr. Hidayat, perlu dilakukan perencanaan komunikasi sehingga peringatan bencana tidak hanya menjadi pesan negatif yang akhirnya membuat masyarakat panik. Sehingga tujuan awal untuk masyarakat waspada dan meningkatkan ketahanan tidak tercapai.

Baca juga:  Miris, Melihat Kondisi Bangunan Sekolah Dasar di Kabupaten Sukabumi

Dijelaskan Dr. Hidayat lagi, aspek komunikasi masih menjadi tantangan atau PR Negara kita dalam penanganan bencana. Kesadaran terhadap risiko bencana merupakan hal penting jika ingin mewujudkan negara yang tangguh bencana.

Lebih jauh dia menyampaikan, potensi ancaman Gempa Bumi Megathrust harus direspon dengan serius dan ada aksi yang berkelanjutan.

“Hal ini dikarenakan Megathrust berpotensi memicu terjadinya tsunami dan dampaknya juga berpotensi sangat masif baik dari aspek korban jiwa, ekonomi, sosial sampai dampak lainnya bagi Negara kita jika lengah dan tidak siap,” imbuhnya.

“Belajar dari bencana Tsunami Jepang , mereka selalu mempersiapkan ancaman gempa selanjutnya dengan meneliti sejarah-sejarah bencana purba di masa lalu dan berhasil membangun ketahanan terhadap bencana untuk masa depan,” katanya.

Dr. Hidayat menambahkan, masyarakat tidak perlu takut dan panik dengan peringatan Gempa Bumi, justru harus gotong royong membangun ketahanan mulai dari lingkungan keluarga sampai Negara.

Baca juga:  Densus 88 Amankan Dua Warga Kebonpedes Sukabumi Diduga Teroris

“Manfaatkan cerita rakyat, permainan tradisional, musik, berbagai jenis kesenian, kemajuan teknologi, kekuatan pemangku agama dan tokoh masyarakat, kekuatan media massa, kerjasama NGO, dunia usaha, dan akademisi untuk membantu pemerintah melakukan komunikasi risiko,” ungkapnya.

Dia menambahkan, memetakan target audiens, membuat pesan dan memilih media yang tepat merupakan hal mendasar yang harus dilakukan jika ingin sukses meningkatkan kesadaran masyarakat akan risiko bencana di Indonesia.

“Upaya ini harus dilakukan untuk membangun ketangguhan terhadap bencana karena saya percaya membangun ketangguhan merupakan investasi bangsa yang tak ternilai dan besar manfaatnya,” tegasnya.

“Jadi memang selain bertanggung jawab saya sebagai seorang pendidik atau dosennya pastinya bukan hanya menghasilkan suatu penelitian atau kajian tapi harus bisa aksinya berdampak pada masalah masyarakat,” tutup Dr. Hidayat.

Pos terkait