LINGKARPENA.ID | Satu lagi kisah miris dunia pendidikan di Kabupaten Sukabumi, sehingga masih ada anak-anak yang terpaksa putus sekolah. Bahkan ia turun tangan ikut membantu orang tua dalam mencari nafkah.
Seperti kisah Murtaqil Apham (12), anak pertama pasangan Suami dan Istri Abuy Burhanudin dan Noviah, warga Kampung Cicariu RT 08/03, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi ini.
Murtaqil, putus sekolah lantaran terhambat masalah biaya. Saat ditemui lingkarpena.id belum lama ini, Murtaqil tengah menjajakan aneka makanan gorengan, dagangan olahan ibunya yang setiap hari ia jual dengan berkeliling kampung.
Pagi itu Murtaqil berjualan dengan membawa adik perempuannya. Kebiasaan itu sudah ia jalani semasa masih tercatat sebagai siswa SD Negeri Cipeundeuy 2 Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.
Ya, anak pertama dari 3 bersaudara ini memang setiap harinya mengais rezeki membantu orangtuanya dengan cara berjualan aneka gorengan. Kini selepas tamat SD Murtaqil tak melanjutkan sekolah lantaran terkendala biaya. Ia harus putus sekolah, padahal disekolahnya Murtaqil tercatat sebagai siswa cerdas.
Kepada lingkarpena.id ia bercerita, keinginan untuk melanjutkan sekolah sangat besar namun ia mengaku kasihan kepada orangtuanya lantaran tidak ada biaya. Kini ia hanya bisa berharap agar pemerintah memperhatikan nasibnya.
“Saya masih ingin bersekolah. Tapi bapa sama ibu tidak mempu membelikan seragam dan peralatan sekolah lainnya. Saya tidak mau membebani kedua orang tua yang sudah memikirkan hidup sehari-hari,” jelas Murtaqil.
Kisah kehidupan Siswa lulusan SD Negeri Cipeundeuy 2 Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi ini sebelumnya pernah di ekspos beberapa media online dan disebar ke para pemangku kebijakan, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Namun sayang minimnya tindakan nyata untuk membantu bocah ini sehingga harapannya untuk bersekolah masih belum tercapai sesuai harapannya.
Murtaqil Apham, di usianya yang masih belia kini harus merasakan berkecamuknya perasaan antara minat sekolah yang menggebu-gebu dengan kondisi finansial yang ada.
Sekali lagi tak hentinya ia berharap ada tangan baik yang mau menuntun minatnya untuk bisa melanjutkan sekolah kembali.






