Nasib Janda Tua di Jampangkulon Tinggal di Rumah Reyot

FOTO: Begini kondisi rumah Janda Tua di Jampangkulon Sukabumi, nyaris ambruk.| Jajang S

LINGKARPENA.ID | Enam bulan sudah Ma Enung ( 58 ) bercerai dengan Pudin ( 56 ), mantan suaminya.
Sejak perceraian itu, kini perempuan renta itu tinggal berdua bersama cucunya bernama Jenal ( 25 ). Mereka tinggal di Kampung Talagasari RT 07/04, Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi.

Rumah berukuran 8 x 6 meter yang ditempati janda tua itu kondisinya cukup memperihatinkan. Bagian atas rumah, wuwung dan genting, nampak bergelombang, dan sangat riskan terjadi ambruk.

Pada bagian dalam rumah, langit langitnya sudah banyak yang terbuka. Nampak bilik dan kayu pada bangunan rumah tersebut sudah pada lapuk. Dan ketika hujan, banyak bocoran disana sini .

Baca juga:  Prabowo Subianto Disambut Ribuan Warga Sukabumi, Ini Kegiatannya!

” Ema mah sok palaur runtuh we… Lamun hujan teh loba anu bocor. Mangga tuh tingali ember sareng baskom, eta tilas nandean cai hujan, ” tutur Ma Enung kepada lingkarpena.id, Senin ( 1/7/2024 ).

Sungguh Miris melihat rumah janda tua itu. Kata Ma Enung, karena takut rubuh ia topang rumah itu dengan bambu. Jejeran bambu penopang itu ia kerjakan sendiri.

Tah eta tihang Awi teh kenging ngadamelan Ema, maksakeun we da Bade miwarangan Batur teu gaduh kanggo ngulikeuna,” kata Ma Enung.

Baca juga:  Aksi Sosial, PT PNM Sebar Ribuan Paket Makanan untuk Santri di Sukabumi dan Cianjur

Hidup perempuan renta ini benar benar memilukan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Ma Enung mengaku bekerja serabutan.

“Kanggo emam mah Ema Tina ladang kuli dibuat. Atuh saupamina teu Aya anu ngulikeun, alhamdulilah Ema gaduh ingin ingon, Hayam sareng domban. Kamari Oge Ema tos ngical hayam, ladangna kanggo emam,” kata Ma Enung.

Kondisi rumah janda renta ini benar benar perlu segera mendapat perhatian pemerintah.

Terkait dengan kondisi rumah tersebut, kata Sekdes Bojongsari, Mamat, pihak Pemdes sudah mengetahuinya. Namun karena di Desa Bojongsari terdapat beberapa rumah tidak layak huni, maka untuk mendapatkan program rutilahu akan dilihat dari skala prioritas mana yang harus di dahulukan.

Baca juga:  Beni Bunyamin, Sang Inisiator Shodaqoh 99 Jompo

“Di wilayah kami itu ada beberapa rumah yang tidak layak huni. Sementara pemdes hanya menerima jatah dari Perkim itu untuk satu rumah, dengan besaran anggaran 20 juta. Rumah yang dibangun mesti sesuai anjuran harus permanen, ya tidak bakalan cukup,” jelas Mamat.

Selanjutnya kata Mamat, jika ada warga yang menerima bantuan program rutilahu, pasti akan ada cemburu dari warga lainnya yang tidak menerima, sementara rumah mereka sama sama masuk kategori rumah tidak layak huni.

Pos terkait