Pembahasan ringan literasi ruang waktu di Baleriung, Mandalawangi, Minggu (21/11/2021). | Foto: Istimewa

Penataan Diri dan Lingkungan Hidup Masyarakat Pajampangan Menjadi Suatu Kewajiban

RUANG PUBLIK

LINGKARPENA.ID – Memahami kata ‘tata’ sendiri saat ini perlu banyak upaya guna menanggulangi input informasi yang berlalu lalang. Pertemuan lanjutan dari Literasi Ruang Waktu bertajuk “Tata, Menata, Ditata, Tertata” menjadi warna yang perlu diupayakan di masa modernisasi. Terlebih, kurangnya ruang pembahasan dan menyurutnya komunikasi budaya dijadikan penyebab hadirnya topik yang terus diupayakan supaya lebih nyata.

Pembahasan dilakukan di Baleriung Mandalawangi, tepatnya pada hari Minggu (21/11/2021) dipantik oleh M. Solehuddin dalam bahasan ringan. Penataan ini sendiri sudah berlaku oleh nenek moyang Sunda, meliputi tata salira, tata kaluarga, tata nagara, tata buana hingga tata surya. Namun, untuk penguatan tingkah laku dan sebagainya belum seperti yang diharapkan.

Untuk melewati level tersebut, perlu penguatan tata salira pada hari ini. Tentu dilatarbelakangi oleh tergerusnya budaya, kemajuan teknologi serta adanya penggunaan sumber daya alam yang sungguh masif bila ditinjau dari lapangan. Apalagi terkait rencana besar di dalamnya diperlukan proteksi dari pihak akademis maupun masyarakat yang mengetahuinya.

Tata salira ini menjadi hal mendasar untuk mengkaji informasi dari luar, sehingga penguatan filtrasi pikiran dan jiwa manusia Sunda perlu dikombinasi dengan cara nenek moyang terdahulu supaya mewujudkan aktivasi kesejatian manusia. Suatu kewajaran ketika hal ini dipahami dan didiskusikan menurut kawan-kawan Literasi, karena semakin maju era kekinian maka problem penyusutan kebudayaan semakin tergeser oleh berbagai budaya yang masuk ke daerah Pajampangan.

Baca juga:  Susah Sinyal di Kabupaten Sukabumi jadi Sorotan, PT Indosat Siap Pasang Tower BTS

Penekanan terhadap potensi yang dimiliki tentu jadi nilai plus untuk ditata, sehingga akan membuahkan hasil positif ketika pembiasaan sehari-hari diiringi dengan manajemen diri yang baik. Langkah-langkah kecil untuk penataan diri, terutama membangun kesadaran hakiki, didukung dengan beberapa komunal di Surade. Artinya ini seperti yang diharapkan kawan-kawan muda secara menyeluruh guna mewujudkan daerah Pajampangan yang aktif dalam kemanusiaan.

Nugraha Jati Sidiq selaku perwakilan dari Literasi Ruang Waktu dan Ahmad Zulriantoni menyebutkan bahwa kata ‘tata’ tidak semestinya dianggap sebagai ruang bergerak yang sempit, namun ada baiknya langkah preventif dan solutif perlu ditingkatkan kembali dalam pemaknaannya.

Baca juga:  Susah Sinyal di Kabupaten Sukabumi jadi Sorotan, PT Indosat Siap Pasang Tower BTS

Menurutnya, langkah dalam lingkup pendidikan dan kemandirian sudah merambah ke daerah sampai akademik. Hal ini ditekankan supaya menjadi manusia mandiri dan berdaulat dalam bertindak, berpikir serta menjalankan tugas dan fungsi sebagai manusia. Kehadiran Ikatan Mahasiswa Pajampangan menjadi salah satu pergerakan yang memusatkan pada kemandirian, apalagi mengenai perlindungan lingkungan, kebudayaan serta kesejahteraan masyarakat dilakukan secara bertahap.

Upaya Wujudkan Sadar Manusia Sunda-Pajampangan Secara historis memang kebudayaan Pajampangan sudah besar, sehingga ini yang menjadi pemantik ketika bahasan dimulai. Tatanan Pasundan kini hanya dianggap sebagai mitos belaka, padahal ini berkaitan dengan keberadaan generasi muda yang peduli akan budayanya. Dengan langkah literasi dan akademik diharapkan meluaskan perjuangan di beberapa titik yang ada di daerah Pajampangan.

Baca juga:  Susah Sinyal di Kabupaten Sukabumi jadi Sorotan, PT Indosat Siap Pasang Tower BTS

Berbicara penataan ruang diri dan lingkungan, dipantik oleh Didi Nurcahyadi, selaku perwakilan Literasi Ruang Waktu sudah saatnya upaya penyadaran ini dibangun mulai dari tata salira. Tingkat kesadaran literasi, tugas dan peran manusia, serta aplikasinya akan selalu dijadikan patokan dalam hidup. Ditutup dengan pemaknaan ‘tata’ dalam urusan kemanusiaan dan lingkungan akan lebih baik disertai pembacaan sekitar Pajampangan dengan membaca alam dan menemukan solusi terbaik untuk daerahnya. Sebab, menurut pernyataan dari kawan Literasi dan Mahasiswa Pajampangan, hal tersebut dilakukan sedini mungkin untuk menyelamatkan ruh Pasundan sekaligus Pajampangan untuk generasi milenial.

 

 

Oleh : Arif Santoso Seminar

Tinggalkan Balasan