LINGKARPENA.ID – Media mainstream dan jagat media sosial tengah diramaikan oleh statement salah satu politisi PDI Perjuangan ketika melakukan rapat kordinasi dengan Kejaksaan Agung belum lama ini. Pasalnya pernyataan itu disampaikan ketika Komisi III DPR RI sedang dalam suasana rapat.
Suara tiba-tiba tercetus dengan tegas melalui Politisi PDI Perjuangan Arteria Dahlan, meminta Kepala Kejaksaan Agung untuk memberhentikan salah satu pimpinan petinggi Adhyaksa karena menggunakan bahasa “Sunda” ketika sedang rapat.
Hal tersebut mengundang reaksi dari berbagai unsur masyarakat Sunda, salah satunya LGP Jawa Barat. Melalui Laskar Ganjar Puan Jawa Barat meminta agar Arteria Dahlan meminta maaf kepada masyarakat sunda atas pernyataan yang telah menyinggung masyarakat sunda secara khusus. Pasalnya bahasa sunda merupakan identitas bagi masyarakat Jawa Barat yang tersebar dari wilayah tatar Sunda hingga Banten.
Ketua Laskar Ganjar Puan Jawa Barat, sekaligus ketua kasepuhan padepokan Trisakti Drajat Hidayat Soetardja menyampaikan, apa yang disampaikan Arteria Dahlan tidak mencerminkan sosok negarawan yang baik bagi republik ini. Karena telah mencederai semangat persatuan Indonesia yang telah lama di dengungkan oleh para pendiri bangsa ini.
“Perilaku dan statement yang disampaikan oleh Arteria Dahlan itu, merupakan bentuk rasisme bagi masyarakat sunda. Ya, jelas melukai hati dan perasaan masyarakat sunda secara khusus. Untuk itu, saya meminta kepada Arteria untuk segera meminta maaf kepada masyarakat sunda secara terbuka. Ini guna menghindari hal-hal yang tidak di inginkan dan tidak menjadi dinamika politik yang berkepanjangan,” tegas Drajat Hidayat, kepada awak media, Selasa (18/01/2022).
Lanjut Ketua Ganjar Puan Jabar ini mengatakan, tidak hanya itu, perlu juga diketahui tanah sunda merupakan tanah yang penuh dengan pijakan sejarah. Bung Karno dimasa mudanya menghabiskan waktu dan belajar di tanah sunda. Bahkan beliau terilhami mendeklarasikan ideologi perjuangan politik saja terinspirasi dari masyarakat sunda. Yakni Kang Aen yang akhirnya melahirkan ideologi Marhaenisme.
“Arteria perlu tahu, tidak hanya itu, pembentukan PNI saja pertama kali dilakukan di tanah sunda yakni di Kota Kembang Bandung. Ini pijakan sejarah yang harus diketahui oleh sodara Arteria Dahlan sebagai politisi. Harusnya dia tau darimana dia berangkat. Dia berangkat dari partai yang berhaluan ajaran bung karno,” jelas Ketua Ganjar Puan Jabar ini.
Diterangkan Derajat, bahkan dalam UUD 1945 pasal 32 ayat 2 menjelaskan, “negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional” hal ini tentu sesuai dengan prinsip Tri Sakti Bung Karno yang diantaranya berkepribadian dalam kebudayaan. Untuk itu, Laskar Ganjar Puan sebagai gerakan politik yang didasari pada moralitas tidak membedakan potensi kepemimpinan tanpa memperdebatkan kesukuan dan kewilayahan.
“Saya atas nama Ketua Ganjar Puan Jabar mendesak pimpinan PDI Perjuangan agar mengevaluasi kader yang tidak memiliki prinsip semangat perjuangan bung karno dalam menghayati trisakti bung karno,” terang Drajat Hidayat Soetardja.(***)
Reporter: Lingkarpena.id
Redaktur: Akoy Khorrudin






