LINGKARPENA.ID | Pondok pesantren (Ponpes) Al-Barokah terletak di Kampung Bunijaya, RT07/07, Desa Cibitung, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, nampak seperti ponpes pada umumnya. Sepintas tak ada yang istimewa. Persepsi itu salah, pasalnya pondok pesantren yang di asuh oleh Muh. Pipin Almuhyi ini sekarang para santrinya punya kegiatan wirausaha yang cukup menjanjikan.
Melihat sumberdaya alam Kecamatan Sagaranten yang luar biasa, Yusuf Irawan, salah seorang warga ponpes Al Barokah, rupanya jeli melihat peluang yang ada di lingkungan sekitar. Ia kini tengah mengembangkan usaha pembuatan gula aren semut, dalam proses produksinya melibatkan para santri Al Barokah.
“Alhamdulillah sudah berjalan lima bulan. Hanya saja kami mengolahnya masih sistem tradisional. Mak’lum masih belajar. Doakan saja kedepannya kami bisa memiliki peralatan mesin yang modern,” ujar Yusup kepada lingkar pena.id, Sabtu (14/9/2024).

Dijelaskan Yusup, pengolahan gula aren semut ini dibuat langsung dari air nira aren secara tradisional menggunakan tangan dan batok kelapa. Fungsi batok disini, kata Yusuf sebagai pengkristal. Gula aren semut jika dalam pembuatannya tidak menggunakan batok sebagai pengkristal hasilnya tidak sempurna.
“Kami memproduksi gula aren semut masih cara tradisional. Dari mulai bahan kalis sampai proses dikemas dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Kemudian dijemur disinar matahari selama 30 menit, setelah kering baru dikemas,” jelas Yusuf lagi.
Dalam proses produksilnya, kata Yusuf, pengolahan gula menghindari untuk memakai bahan kimia. Olahan gula aren semut yang dilakukan benar benar masih tradisional.
Ia berharap ada pihak swasta atau siapa saja yang berminat untuk bekerjasama mengembangkan produknya. Tentunya, kerjasama yang dijalin saling menguntungkan.
“Hasil produksi kami jual offline dan online. Bahkan produksi kami sudah dicicipi orang luar negri. Kemarin dulu ada teman tinggal di Amerika, ia membawa gula aren semut ke sana. Ternyata mendapat respon,” imbuh Yusuf.
Lebih lanjut kata Yusuf, dalam proses pembuatan gula aren semut dirinya melibatkan para santri. Mereka mendapat upah layaknya pegawai. Hasil penjualan disisihkan untuk biaya operasional pesantren.
“Kenapa kami melibatkan para santri, dalam pembuatan gula semut ini lantaran dari hasil penjualan ada 20 persen untuk biaya operasional pesantren,” pungkasnya.






