Puluhan Dokter Bayi Berkumpul di SI : Survei SSGI ini Kata Sekdinkes Sukabumi

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi Maskur Alawi saat memberikan keterangan pers kepada sejumlah awak media di lokasi kegiatan.| Foto: Aris Wanto

LINGKARPENA.ID | Puluhan dokter bayi dan bidan dari 58 Puskesmas di Kabupaten Sukabumi ikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) yang ditengarai Dinas Kesehatan, terkait pelayanan kesehatan bayi salah satu dari 12 indikator standar pelayanan.

Bimtek tersebut berlangsung di Hotel Sukabumi Indah Selabintana, Kecamatan Sukabumi, Selasa, 12 Desember 2023.

Bimtek tersebut dilakukan sebagai desiminasi dan informasi mengenai pelayanan kesehatan bayi, termasuk penamgan stunting sebagai deteksi dini mulai dari usia bayi, gizi buruk dan yang lainya.

“Bimtek ini dilakukan sebagai desiminasi dan informasi pelayanan bayi juga upaya mengedepankan sekala prioritas dalam penanganan secara husus dari 58 Puskesmas di 47 Kecamatan,” tutur Maskur Alawi kepada Lingkarpena.id seusai kegiatan di lokasi.

Baca juga:  Tak Puas dengan Audiensi, LMP Kabupaten Sukabumi Bakal Gelar Aksi ke Diskominfosan

Selain itu, Maskur juga menekankan terkait penangan penyakit mulai dari deteksi usia bayi seperti gizi buruk, penyakit jantung bawaan, juga stunting. Hal tersebut tentunya harus menjadi perhatian lebih ekstra dan penanganannya lebih serius.

“Ya harapan saya pada teman-teaman setelah kita berikan update ting ilmu ripres ilmu hari ini harus bisa menjaga dan meng implementasikan di PKM nya masing-masing,” tandasnya.

Ditanya soal perbedaan data hasil survei SSGI dan turunnya Dikes Provinsi ke Kabupaten Sukabumi Maskur menjawab, pihak provinsi bukan mengenai itu, tapi terkait audit stunting keseluruhan.

“Ya untuk perbedaan data memang kami terus melakukan kajian-kajian dan evaluasi,” imbuhnya.

Baca juga:  Ini Lho Lokasi Rawan Kecelakaan di Sukabumi

Sementara kajian SSGI betul berbeda dengan data rell hasil penimbangan teman-teman. Maka dari itu pihaknya terus melakukan validasi data di tingkat posyadu.

“Perlu diketahui ini bukan salah atau benar ya, jadi SSGI melakukan survei. Nah yang namanya survei itu kan bukan mencari sampling. Mereka itu hanya mengukur 1000, bayangkan itu hanya berapa persen. Jadi kita memiliki kurang lebi 200.000 balita yang menjadi sasaran program,” kata Sekdiskes ini.

“Ya kita simpulkan antara survei dan rell tentunya berbeda. Makanya ingin membuktikan mana yang betul. Apakah data kami atau kesalahan survei SSGI? Kendati demikian masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Ya untuk memastikan kelebihan survei. Apalagi survei kredibel yang dilakukan mereka ini kan mengunakan metode alat ukur,” tambahnya.

Baca juga:  Recofusing Anggaran, Yudha: Prioritas Pembangunan Bisa Dirolling

“Apakah SDM nya sudah benar kompeten? Tapi kekurangannya tidak di ukur. Jadi hasilnya berbeda dengan pihak kami. Dan di lapangan tentunya berbeda hasil jadi bukan sampel, kemudian di ukur tiap bulan sedangkan mereka hanya satu kali stuting di Sukabumi menurun pastinya,”

“Dua hal data yang kita lengkapi untuk meyakinkan kita benar yaitu, yang pertama alat ukurnya kita lengkapi dan Sumber Daya Manusia (SDM) nya kita tingkatkan,” pungkasnya.

Pos terkait