LINGKARPENA.ID | Hujan yang turun tanpa henti dalam beberapa hari terakhir sehingga membawa dampak buruk bagi wilayah Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi. Sebuah rumah panggung milik warga di Kampung Cipari, Desa Cijurey, ambruk pada Rabu pagi (22/4/2026) sekira pukul 07.30 WIB pagi.
Di tengah langit yang masih berawan, reruntuhan kayu dan bambu tampak berserakan di lokasi. Rumah berukuran sekitar 6×4 meter itu ambruk akibat kombinasi cuaca ekstrem dan kondisi bangunan yang sudah lapuk dimakan usia.
Rumah tersebut diketahui milik seorang warga bernama Ibu Manah. Beruntung, saat kejadian rumah dalam keadaan kosong karena pemiliknya sudah tidak tinggal di sana dan kini menetap bersama anaknya. Tidak ada korban luka maupun jiwa dalam peristiwa tersebut.
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Gegerbitung bersama unsur terkait langsung turun ke lokasi untuk melakukan assessment dan koordinasi dengan aparat setempat.

“Rumah panggung ini roboh akibat hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir, ditambah kondisi bangunan yang sudah lapuk. Saat kejadian rumah dalam keadaan kosong, sehingga tidak ada korban,” ujar P2BK Gegerbitung, Opik kepada lingkarpena.id Rabu (22/4/2026).
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini tetap menyisakan duka dan kerugian materiil. Satu kepala keluarga terdampak dan kini harus mengungsi sementara ke rumah kerabat.
Sejumlah unsur seperti Pol PP, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Tagana, serta Ketua RW setempat turut terlibat dalam penanganan awal di lapangan. Mereka bahu-membahu memastikan kondisi aman sekaligus mendata kebutuhan mendesak warga terdampak.
Saat ini, kebutuhan utama yang dibutuhkan adalah bantuan bahan material bangunan untuk perbaikan rumah. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi, terutama hujan disertai angin kencang.
Pihak terkait juga merekomendasikan agar segera dibuat berita acara kejadian serta pengajuan bantuan kepada BPBD, Dinas Sosial, PMI, dan Baznas guna mempercepat proses penanganan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik derasnya hujan, ada kerentanan yang harus diantisipasi bersama. Rumah-rumah tua yang berdiri sederhana di pelosok kampung, menyimpan risiko besar ketika alam mulai menunjukkan kekuatannya.






