DLH Kab Sukabumi: Desa Kutajaya Jadi Contoh Nyata, Aksi Iklim Berbasis Warga Dorong Ekonomi Lokal

LINGKARPENA.ID | Isu perubahan iklim kini bukan lagi sekadar pembahasan global. Di Kabupaten Sukabumi, langkah konkret justru muncul dari tingkat desa. Desa Kutajaya, Kecamatan Cicurug, tampil sebagai bukti bahwa gerakan berbasis masyarakat mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi.

 

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi menilai capaian Desa Kutajaya dalam Program Kampung Iklim (ProKlim) kategori Utama bukan sekadar simbol penghargaan. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut mencerminkan pengelolaan lingkungan yang terbangun secara sistematis dan melibatkan warga secara aktif.

 

Kepala DLH Kabupaten Sukabumi, Nunung Nurhayati, menjelaskan bahwa konsistensi menjadi kunci utama dalam menjalankan program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di wilayah tersebut.

Baca juga:  Tawarkan Produk Kader, Pemuda Tani Datangi Perum Bulog

 

“Keberhasilan ini tidak datang instan, tetapi dari komitmen dan keterlibatan masyarakat yang terus dijaga,” ujarnya.

 

Sejumlah langkah strategis menjadi pondasi keberhasilan itu. Mulai dari pengelolaan sampah dengan sistem pemilahan, pengembangan budidaya maggot untuk mengolah limbah organik, hingga gerakan penghijauan yang dilakukan secara gotong royong.

 

Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada kelestarian lingkungan, tetapi juga mulai menggerakkan roda ekonomi warga. Budidaya maggot, misalnya, kini dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru dalam skema ekonomi sirkular.

Baca juga:  Harga Pangan di Kabupaten Sukabumi Relatif Stabil, Cabai Rawit Meroket Hingga 20 Persen

 

“Program ini sudah memberi manfaat ekonomi, bukan hanya menjaga lingkungan. Itu yang membuatnya bisa bertahan dan berkembang,” jelas Nunung.

 

Dari sisi kebijakan, DLH melihat model yang diterapkan di Kutajaya berpotensi direplikasi di desa lain. Dengan pendekatan yang adaptif, terjangkau, dan berdampak langsung, program seperti ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan iklim yang semakin kompleks.

 

Tak hanya itu, kolaborasi lintas sektor juga dinilai memperkuat implementasi di lapangan. Keterlibatan pihak swasta melalui program pembinaan lingkungan menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan.

 

“Sinergi berbagai pihak sangat penting. Dukungan dari luar membantu mempercepat hasil di tingkat masyarakat,” tegasnya.

Baca juga:  DLH Kabupaten Sukabumi Siaga May Day 2026, Pastikan Lingkungan Tetap Bersih dan Nyaman

 

Meski demikian, DLH mengakui masih banyak desa yang belum optimal dalam mengelola potensi lingkungannya secara terstruktur. Padahal, pendekatan seperti di Kutajaya bisa menjadi solusi nyata untuk mengurangi dampak perubahan iklim dari level lokal.

 

Ke depan, DLH Kabupaten Sukabumi menargetkan perluasan Program Kampung Iklim ke lebih banyak wilayah, dengan menekankan keterpaduan antara aspek lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

“Ini bukan sekadar program, tetapi gerakan dari bawah. Jika diperluas, dampaknya bisa terasa hingga tingkat regional bahkan nasional,” pungkas Nunung. (adv).

Pos terkait