LINGKARPENA.ID | Sudah hampir dua minggu sahabat kami pergi, tepatnya 11 Oktober 2024, namun saya masih menyimpan kesedihan mendalam. Ya meninggalnya wartawan senior, Hapid Hoiri, menyisakan banyak kesedihan bagi seluruh khalayak rekan media dan sahabatnya.
Salah satunya saya, yang sering diskusi soal kesejahteraan awak media lokal. Meski badannya besar, namun hatinya lembut. Hapid adalah sosok humble, baik, cerdas, jujur, rajin ibadah, loyal, sayang keluarga dan banyak karakter yang jadi panutan semua orang.
Sosok yang cerdas. Visioner. Punya prinsip. Setiap kata yang disampaikan kepadanya, almarhum langsung menangkapnya. Langsung menulisnya dengan tepat dan akurat.
Bagi saya, Hapid adalah sosok penting dalam perjalanan karir dunia jurnalistik. Sahabat dan juga penyemangat dalam melihat masa depan. Ia sering mengenalkan saya ke beberapa pejabat dan orang-orang hebat.
“Ini sahabat saya pak, yang tinggal di Kampung Surade Jampang,” kata Hapid waktu itu saat mengenalkan saya dengan salah seorang pejabat Pemda Sukabumi.
Awal mula perkenalan saya dengan Kang Hapid, yakni 2011. Saya dikenalkan oleh rekan media, Mang Kuncir di rumah salah seorang kepala desa di Sukabumi Selatan. Saat itu, saya datang ke rumah pa kades untk konfirmasi sesuatu.
Dari situ, persahabatan saya dengan Kang Hapid berlanjut. Tidak sekedar terkait pemberitaan, saya juga sering bertemu untuk ngobrol dan berbagi kisah pengalaman hidup. Terkadang jika ia liputan ke Selatan Sukabumi, Pajampangan, acap saya ajak dia menginap di rumah.
Makin lama semakin dekat. Sampai-sampai Kang Hapid mengajak keluarganya “ngaliwet” bersama keluarga saya di Ujunggenteng di awal tahun 2024.
Akhir Agustus lalu, saya bertemu dengan Kang Hapid saat liputan di Kecamatan Lengkong. Sembari menikmati panasnya kopi, saya berbincang dengan Kang Hapid. Dari obrolan tersebut, lahirlah rencana untuk buka usaha kecil kecilan, modal patungan. Kolaborasi yang menarik bagi saya.
Pernah suatu ketika masih di bulan Agustus 2024. Sekitar jam 23.45 WIB, diluar rumah ada yang panggil panggil nama saya. Setelah pintu saya buka ternyata Kang Hapid,” Arek ngendong ah,” ujarnya.
Tentu saya terima. Malam itu almarhum banyak mengeluh. Saya perhatikan sepertinya ada yang sedang dirasakan Kang Hapid. Benar saja ia mengaku sedang tidak enak badan, dan meminta tolong saya memijitnya.
Malam itu tidur Kang Hapid nampak pulas itu kentara dari dengkur khasnya yang nyaring. Pagi harinya, sambil minum kopi kami ngobrol ngalor ngidul. Obrolan kami lagi lagi soal kesejahteraan dan keinginan punya tempat, semacam markas lah buat kumpul kumpul. Kami berdua sepakat untuk mencari tempat bakal dijadikan markas.
Namun, Allah berkehendak lain. Sekarang, rasa sedih terus menyelimuti hati. Kang Hapid terlebih dulu melakukan perjalanannya. Perjalanan yang abadi. Selamat jalan sobat engkau pergi meninggakan banyak kenangan yang indah dan manis yang selalu kukenang.






