Forkopimcam Kalibunder Gelar Rakor, Sikapi Situasi Pasca Kasus Anak Bunuh Ibu

Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kecamatan Kalibunder dalam menyikapi kultur dan budaya masyarakat pasca terjadinya kasus pembunuhan ibu kandung oleh anak.| Istimewa

LINGKARPENA.ID | Adanya kasus tindak pidana yang dilakukan R (26) terhadap ibu kandungnya, Imas (45) terungkap ada fakta lain. Menilik tentang sosial kultur dan budaya di wilayah Desa Sekarsari, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi berbeda dengan desa lainnya.

Di Desa Sekarasari, tempat tinggal korban dan pelaku, informasi didapat, bahwa di tempat tersebut sudah lama warga masyarakatnya menganut Islam yang anti speaker atau Aspek.

Fenomena tersebut menjadi bahan perhatian bagi Forkopimcam Kalibunder. Karena itu dinilai berdampak pada sosiokultur dan budaya masyarakatnya, terutama pada tingkat kepedulian terhadap dunia pendidikan formal.

Baca juga:  Bencana Longsor di Desa Muara Dua, Bhabinkamtibmas Cek Lokasi

Atas dasar itu, Camat Kalibunder Encep Iwan Kartawiria mengundang para kepala desa, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, dinas instansi, pengurus OKP, dan unsur Forkopimcam, serta tokoh agama, untuk duduk bareng membahas kondisi yang ada dan terjadi di Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, Jumat ( 17/05), bertempat di Aula Kecamatan Kalibunder.

“Rakor ini dilakukan menyikapi perkembangan yang ada, yakni adanya kasus pembunuhan yang terjadi baru baru ini. Kami merasa perlu mendapat masukan dari masyarakat dan berbagai pihak, mengingat karakteristik warga di Desa Sekarsari berbeda dengan desa lainnya,” ujar Encep kepada Lingkarpena.id.

Baca juga:  Kapolda Jatim Tinjau Posko DVI di RS Bhayangkara Tirta Yatra Lumajang

Lebih lanjut kata Encep, hal itu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Upaya yang dianggap tepat untuk itu adalah melalui pendidikan, baik formal maupun informal.

“Adanya kasus pembunuhan tersebut melahirkan banyak analisa, salah satunya faktor pendidikan. Kami mendapatkan informasi kondisi sosial budaya warga di wilayah tersebut berbeda dengan desa yang lainnya,” imbuh Encep melalui telepon.

Baca juga:  Wali Kota Sukabumi Apresiasi Acara Baksos Lapdek Comunity Sukabumi di Jalan Aminta Azmali Trip SKIP

Kesimpulan hasil rapat koordinasi tersebut didapat, Encep berpendapat bahwa diperlukan pendekatan presuasif dan komunikasi secara perlahan serta berkelanjutan kepada masyarakat desa tersebut.

“Hampir 80 persen warga di Desa Sekarsari, memiliki sosial budaya yang berbeda, mereka sedikit tertutup, bahkan anti speaker, TV, dan bedug, tapi sangat agamis,” ujarnya.

“Begitu juga dengan kegiatan pekerjaan mereka, warga di sama banyak yang bermukim di saung saung sadap, atau saung kebun, sehingga anak banyak ditinggalkan di rumah, kalaupun dibawa tidak,” pungkasnya.

Pos terkait