SUKABUMI – Kemiskinan kembali menampakkan wajahannya di pusat keramaian Kabupaten Sukabumi. Sepasang suami istri pemulung asal Kecamatan Surade, Sukabumi Selatan, terpaksa mengadu nasib di trotoar depan Kantor Kecamatan Cibadak, Senin (26/10/2026). Jarak lebih dari 90 kilometer mereka tempuh semata-mata untuk bertahan hidup.
Pasangan muda yang membawa serta seorang anak balita itu terlihat beristirahat di atas trotoar difabel, persis di samping pagar Kantor Kecamatan Cibadak dan pos penjagaan Satpol PP. Alas tidur mereka sebatas kardus bekas, berdampingan dengan sebuah karung putih besar berisi botol plastik yang masih tampak kempes, serta sebuah ransel lusuh.
Di tengah deru kendaraan Jalan Raya Cibadak yang padat, warga yang melintas hanya menatap sekilas tanpa ada yang berhenti untuk bertanya, hingga wartawan menyambangi mereka.
Saat ditanya dari mana asal mereka, sang ayah yang mengenakan kaos hijau lusuh menjawab singkat dengan logat Sunda selatan yang kental, “Surade, Kang.” jawabnya.
“Di sini kerja apa, Kang?” tanya wartawan.
“Mulung,” jawabnya pelan.
Ketika ditanyakan mengenai kondisi kehidupan di kampung halamannya, pria tersebut hanya menunduk. “Sarua, Kang. Sarua susah,” sahutnya lirih sebelum kembali memalingkan wajah.
Keluarga ini merantau dari wilayah pesisir ujung selatan Sukabumi ke pusat perdagangan di utara dengan satu harapan: mengumpulkan barang bekas untuk ditukar dengan beras.
Momen haru tak terhindarkan di tengah kerasnya jalanan. Sang ayah tiba-tiba memeluk erat anak balitanya yang mengenakan baju biru. Ia tersenyum ke arah kamera, sebuah senyum yang menyiratkan ketabahan. Sang anak membalas pelukan tersebut, menyembunyikan wajahnya di dada sang ayah. Di sisi lain, sang ibu yang mengenakan hijab hitam tampak diam dengan mata sembab, sembari merapikan karung putih mereka.
Tak lama berselang, sang ibu berdiri dan memanggul kembali karung yang menjadi tumpuan hidup mereka. Sang suami menggendong anaknya, dan mereka kembali berjalan tertatih menyusuri trotoar yang ramai oleh truk dan sepeda motor.
Keberadaan keluarga pemulung ini menjadi potret nyata ketimpangan ekonomi di Kabupaten Sukabumi. Di saat wilayah utara seperti Cibadak terus mengalami percepatan pembangunan infrastruktur dan pusat perniagaan, warga dari wilayah selatan seperti Surade, Jampangkulon, dan Tegalbuleud justru harus hijrah ke utara untuk mencari sisa-sisa kehidupan.
Hingga berita ini diturunkan pada Rabu (28/10/2026), keluarga kecil tersebut masih terus menyusuri jalanan Cibadak. Di belakang mereka, papan nama “PEMERINTAH KABUPATEN SUKABUMI – KECAMATAN CIBADAK” tetap berdiri kokoh, menjadi saksi bisu bahwa pembangunan fisik belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh warganya.(*)






