Kisah Tukang Batu Naik Haji di Sukabumi, Abad 10 Tahun Menabung

FOTO: Calon jemaah haji (CJH) Abad (66) warga Kampung Pasirguha, Desa Citanglar, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.| dok. Jajang S

LINGKARPENA.ID | Penantian panjang salah seorang Calon jemaah haji (CJH) bernama Abad (66) warga Kampung Pasirguha, Desa Citanglar, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, untuk berangkat ke tanah suci akhirnya terwujud.

Keberangkatan pria lanjut usia beranak empat ini bahkan tertunda selama dua tahun akibat pandemi Covid-19.

Abad mengaku bersyukur akhirnya bisa berangkat bersama 223 calon jemaah haji lainnya yang masuk dalam Kloter 40 Embarkasi Jakarta. Ia mengaku dirinya mendaftar sebagai calon jemaah haji sudah 10 tahun lalu.

Pada tahun 2014 Abad mendaftar untuk bisa berangkat ke tanah suci. Namun pada 2016 istrinya dipanggil sang Khalik. Kondisi itu tak membuatnya surut untuk bisa naik haji.

Baca juga:  Inilah Sosok Kapolres Sukabumi di Hari Santri Nasional

“Sepuluh tahun menabung lalu mendaftar agar bisa berhaji,” ujarnya saat ditemui di Wisma Asrama Haji Pusbangdai, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, (Rabu, 29/05 ).

Meski pekerjaannya hanya kuli pembuat batu bata, dirinya terus berusaha menyisihkan keuntungan sebesar Rp 30 ribu setiap harinya dari hasil menjual batu bata. Selama 10 tahun menabung, akhirnya dirinya mendapatkan panggilan untuk berangkat haji pada tahun 2024

“Tapi gara-gara Covid-19, ditunda keberangkatan. Sementara tahun lalu ada pembatasan lansia umur di atas 60 tahun tidak bisa berangkat,” ungkapnya.

Baca juga:  Muhibah Ramadhan Bupati di Parungkuda, Ada Beasiswa Dokter dan Ini Syaratnya

Kakek dengan 4 anak ini sudah menyiapkan doa saat berada di depan Kakbah. Ia berharap panggilan haji bisa menghapus dosa masa lalunya.

“Mau minta kesehatan dan bisa terhapus dosaku selama ini,” tuturnya.

Terkait kesehatan, Abad mengaku masih kuat. Meski umurnya sudah terbilang sepuh, dia siap untuk menjalankan ibadah haji.

Kehidupan Abad cukup sederhana. Ia tinggal dirumah panggung berukuran 8 x 5 meter.

Sementara Ketua PPIHD Kabupaten Sukabumi Abdul Manan mengatakan, semua keloter yang berangkat dari Sukabumi didominasi perempuan, baik dari keberangkatan pertama hingga ketiga.

” Dari keberangkatan pertama hingga ketiga hari ini didominasi perempuan. Selain itu, sebagian besar berprofesi sebagai ibu rumah tangga, ” ungkapnya.

Baca juga:  Shalat Ghaib untuk Korban Bencana Gempa Cianjur, Kapolres Sukabumi Turut Terlibat

Berkaitan yang berangkat hari ini, termuda usia 22 tahun asal Kecamatan Parungkuda dan tertua berusia 99 asal Kecamatan Cidahu.

“Mereka tiba di asrama haji langsung istirahat. Sore mereka akan menjalani pembinaan, termasuk untuk manasik haji, nanti ada bimbingan manasik haji seperti Tawaf, Sai, lontarJamarat serta di mock up pesawat. Ini untuk lebih memantapkan pengetahuan dan wawasan perhajian jemaah,” tuturnya.

Semoga kisah Abad ini menjadi inspirasi. Dan ternyata jika ada niat yang kuat Allah memberi jalan kemudahan. Semoga menjadi haji yang mabrur.

Pos terkait