Menilik Tempat Bersejarah di Pajampangan

LINGKARPENA.ID | Saat era kolonial dulu kawasan Pantai Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, dipilih dan dijadikan sebagai benteng pertahan perang paling strategis, secara geostrategis dan geopolitik.

Kawasan Ujunggenteng misalnya ini memang lokasi strategis. Hal itu diakui oleh militer Belanda, Jepang dan Sekutu. Terbukti adanya beberapa benda bersejarah disana menandakan bahwa kawasan tersebut dianggap vital.

Di kawasan Ujunggenteng (Abraham Van Rieberck, 1708 menamainya dengan sebutan Gentengbaai), ada beberapa peninggalan bersejarah, sebut saja Dermaga (warga sekitar menyebutnya Bagal Batre).

Di Ujunggenteng sepanjang kurang lebih ada 200 meter dari bibir pantai dan Gedung Papak. Dua peninggalan bersejarah itu menjadi saksi bisu awal mula bermukimnya orang Jawa Timur dan Jawa Tengah di Sukabumi Selatan.

Menurut sejarah, Dermaga Bagal Batre dahulunya digunakan sebagai pelabuhan transit armada tentara Belanda yang melintasi perairan Selat Jawa.

Bahkan dahulu orang orang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang sengaja dibawa oleh tentara Belanda sebagai tenaga kerja dengan tujuan Suriname dan Kalimantan, diturunkan melalui dermaga Bagal Batre, kemudian dipekerjakan sebagai kuli kontrak dibeberapa perkebunan yang ada di Sukabumi Selatan.

Baca juga:  Kawasan Wisata Pantai Citepus Palabuhanratu Mulai Dipadati Pengunjung

Di kawasan pantai Ujunggenteng dulu ada bangunan gedung, warga menyebutnya Gedung Papak, dan difungsikan sebagai markas tentara Belanda. Namun sayangnya bangunan tersebut kini tinggal nama, padalah sekitar tahun 80-an bangunan itu masih berdiri kokoh dan kondisi genting pada bangunannya pun masih berwarna merah, warna temboknya menyerupai warna loreng seragam tentara Belanda.

Selain adanya Dermaga Bagal Batre dan Gedung Papak di kawasan Pesisir Ujunggenteng, terdapat pula beberapa peninggalan bersejarah lainnya yang ada di Sukabumi Selatan (Pajampangan), sebut saja Terowongan di Kampung Bedeng dan Tugu Palagan Pasirkarang.

Terowongan Bedeng

Bukti sejarah masa kolonial Belanda yang sekarang masih berdiri kokoh, yakni Terowongan Bedeng, terletak di Kampung Bedeng, Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Terowongan ini memiliki panjang 10 meter dan lebar 7 meter serta tinggi 5 meter.

Lokasi terowongan yang berjarak lebih kurang 200 meter dari Sungai Cikarang ini, kini disekitarnya ditumbuhi rumput liar yang hampir menutup sebagian badan terowongan.

Baca juga:  Waspada Bencana di Kota Sukabumi, Fahmi Cek Kesiapan Mitigas

Tugu Palagan Pasirkarang

Bukti peninggalan bersejarah yang tak kalah penting dan menarik untuk dibahas adalah Tugu Palagan Pasirkarang. Tugu yang memiliki tinggi 6 meter ini berdiri diatas lahan seluas 70 meter persegi. Diatasnya terdapat replika bambu runcing dan senjata api yang diikat bendera merah putih.

Lokasinya berada di sekitar ruas jalan Cibarehong – Cibungur, tepatnya di Kampung Pasirkarang, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Tugu Palagan yang pada tahun 1994 pernah dipugar oleh Kodim 0608 Sukabumi ini, didirikan atas inisiatif para veteran dan OKP Pemuda Panca Marga Kec. Surade.

Menurut catatan sejarah, pertempuran Pasirkarang terjadi sebelum TNI hijrah ke Yogyakarta. Saat itu Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) Kompi lll Batalyon lll/C pimpinan Kapten Rodjak dan Danyon D Sukindar, bersama sama rakyat menghadang konvoi pasukan Tentara Belanda dan sekutu NICA (Tentara Gurkha) yang hendak menuju Ujunggenteng. Pertempuran yang berlangsung dari sekitar pukul 07.00 hingga pukul 15.00 itu terjadi pada 2 Januari 1948.

Baca juga:  Minimalisir TPPO di Sukabumi, BP2MI Gandeng FDSI Gelar Sosialisasi

Dengan kekuatan yang ada TKR dan rakyat pada saat itu bahu membahu melawan tentara sekutu meskipun hanya bersejatakan bambu runcing, golok, dan senjata hasil rampasan. Tentara Belanda dengan kekuatan 300 personal dibawah pimpinan Kapten Karl Van De Leigh ( tuan kelewih ) berhasil dipukul mundur, dan 12 pucuk senjata ( 12 jenis brand ) dirampas oleh para pejuang.

Warisan sejarah lainnya yang ada di Pajampangan terdapat di Komplek Satuan Radar ( Satrad ) Cibalimbing, Desa Pasiripis, Kecamatan Surade. Disana terdapat tiga buah bunker bekas masa penjajahan Jepang.

Ketiga bunker tersebut memiliki ukuran berbeda, bunker terbesar memiliki panjang 13,5 meter, tinggi 160 Senti meter, dan lebar 4,1 meter. Bunker terkecil panjang 140 Senti meter, panjang 5 meter, dan lebar 148 Senti meter.

Bunker bekas masa penjajahan Jepang terdapat pula di Kampung Pinangjajar, Desa Sukamukti, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi. Ukuran bunker tersebut, tinggi 2 meter, panjang 7 meter, dan lebar 3 meter, serta kedalam mencapai 6 meter.

Pos terkait