Pemerhati Seni dan Budaya Abah Ruskawan. | Foto: Istimewa

Pandemi Covid-19 Meluluh Lantahkan Pelaku Seni, Abah Ruskawan: “Ibarat Mati Suri”

BUDAYA KABUPATEN SUKABUMI

LINGKARPENA.ID – Mati Suri saat pandemi covid-19 dirasakan oleh para pelaku seni tradisi. Dengan kehilangan Job manggung itu, setelah pemerintah memberlakukan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Hal tersebut sangat dirasakan berat oleh para pelaku seni pementasan saat ini.

Abah Ruskawan, Pemerhati Seni dan Budaya sekaligus sebagai Ketua KOMDA II Paguyuban Pasundan mengatakan, merasa miris melihat para pelaku seni saat ini. Menurutnya, belum terlihat ada solusi dan upaya dari pemerintah dalam pengalihan sementara kegiatan yang bisa mendapatkan penghasilan khusus bagi para pelaku seni ini.

Menurut Abah, sebagai contoh, pelaku seni Wayang Golek di Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan hasil survey pada tahun 2020 saat pandemi covid-19 melanda negeri ini. Misal, uang muka pementasan di hari kenaikan kelas Sekolah saja, seperti uang muka yang sudah diberikan oleh panitia. Dan itu harus dikembalikan akibat peraturan PPKM saat ini. Apalagi masuk tahun 2021 setelah diberlakukannya jangan membuat kerumunan.

Baca juga:  Ada Program Kuliah Gratis Plus Uang Saku di STH Pasundan dari KNPI Kabupaten Sukabumi

“Ya, dengan keberadaan seperti ini seni tradisional seakan mati suri. Lalu dari mana cara pelaku seni mencari makan untuk keluarganya? Ini adalah berhubungan dengan mata pencaharian para pelaku seni untuk bisa bertahan hidup,” jelas Abah Ruskawan.

Menurut Abah, pernah terjadi ada yang memaksakan pentas di salah satu kegiatan acara hajatan, namun itu berujung dibubarkan. Jadi, tidak dipungkiri muncul pertanyaan dari para pelaku seni, hingga kapan bantuan dana ini akan dikucurkan?

Pelaku seni berharap, peraturan yang dibuat pemerintah dapat mengakomodasi seluruh pekerja seni budaya. Sebab, hal ini akan mempengaruhi rencana jangka panjang seniman dalam situasi pandemi yang berkepanjangan ini.

Baca juga:  Diprotes Warga Akhirnya Muspika Lengkong Bubarkan Penambang Ilegal di HGU PT Naga Warna

“Identitas pelaku industri seni ini bagaimana mampu untuk terus berkarya? Adaptasi baru sangat tidak memungkinkan bagi para pelaku seni dan budaya lama, seperti para pelaku seni Wayang Golek ini,” terang Abah.

Abah menambahkan, tuntutan bagi para pelaku seni untuk mempersiapkan masa datang seandainya migrasi menuju platform semacam YouTube dan Instagram tidak terhindarkan. Masyarakat saat ini sedang mengalami akselerasi tumbuh kembang budaya menonton seni secara daring. Jika saja mempuni kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) pelaku seni di daerah yang sangat minim ke ilmuannya pada dunia digitalisasi, jangan disamaratakan dan harus terpisah.

“Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dapat menjadi solusi baru. Dengan dikeluarkannya Perpres 82 Tahun 2020, Pemerintah secara resmi membentuk Komite Penanganan Covid-19 serta pemulihan ekonomi nasional, untuk menggantikan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional,” terangnya.

Baca juga:  Rumah Warga di Desa Jayanti Dibongkar Demi Wisata, Ini Kata Kades!

Lanjut Abah, pemerintah harus memastikan penanganan kesehatan dan pemulihan sektor ekonomi akibat pandemi Covid-19 dapat berjalan secara beriringan dan terpadu. Antara persoalan kesehatan terkait covid-19 dan ekonomi tidak bisa dipisahkan, antara penanganan kesehatan dan persoalan ekonominya.

“Ekonomi menjadi persoalan tersendiri. Sehingga dengan demikian, istilah Bapak Presiden kita harus mengatur antara rem dan gas. Nah, mana yang kemudian harus diseimbangkan agar persoalan ekonomi dan kesehatan bisa cepat terselesaikan. Saya harap, semoga peraturan Presiden RI dapat terserap baik oleh Pemerintah Daerah dan segera dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

 

 

 

 

Reporter: Aris Wanto

Redaktur: Akoy Khoerudin

Tinggalkan Balasan