Polemik Jual Beli Tanah dan Bangunan dengan Cek Kosong, Makin Memanas

Graha STIE Pasim Sukabumi, Jalan Sukaraja Sukabumi.| Foto: Istimewa

LINGKARPENA.ID | Polemik jual beli tanah dan bangunan yang berlokasi di wilayah Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, antara AMC dengan pasangan suami istri RB dan WP, kasusnya kini semakin memanas.

Kuasa hukum AMC Diah Ekawati menegaskan, tidak ada pertemanan sebelumnya. Bahkan klien itu tidak kenal sama sekali dengan RB ataupun WP.

Menurut Diah, hanya dikenalkan oleh Indra selaku makelar karena RB dan WP ingin membeli dua bidang tanah dan bangunan rumah kliennya itu salah satunya yang dijadikan STIE Pasim.

“Iya, XG selaku anak kandung hanya dikuasakan sebagai pelapor. Lantaran pada saat itu AMC yang menjadi korban dugaan penipuan sedang sakit dan berhalangan. Jadi secara hukum itu kan sah,” kata Diah kepada Lingkarpena.id, Rabu, (24/1/2024).

Lanjut dia, sudah sangat jelas dan sah secara hukum kekurangan Rp1 milyar transaksi jual beli rumah yang dibuatkan perjanjian hutang piutang juga tertuang di dalam pasal-pasalnya bahwa saudara WP berhutang 1 Milyar selama 6 bulan dan akan dibayarkan dengan cek tunai yang jatuh tempo pada 15 Januari 2023. Pada perjanjian itu dia juga menjaminkan 1 buah SHM atas nama Drs. H. Buchari Saleh yang berlokasi di daerah Babakan Jampang dengan luas tanah 1.300 meter persegi.

“Namun ketika sudah jatuh tempo, RB menghubungi AMC meminta menghadap untuk menyampaikan keterlambatan pembayaran dengan alasan ada tagihannya yang belum masuk. Dan dia hanya bisa memberikan semacam kompensasi denda keterlambatan dengan bahasa keuntungan 2,5 persen. Tapi itu juga hanya dalam waktu 1 bulan saja. Sementara keterlambatan sampai 15 Ferbruari 2023,” bebernya.

Dengan begitu sambung Diah, pada bulan selanjutnya juga sama memberikan hanya 2,5 persen tanpa membayar pokok hutang Rp1 Miliar yang menjadi kewajibannya. Yang bersangkutan malah mencoba merayu agar lebih baik uangnya di mereka saja, karena alasannya bisa lebih menguntungkan dari pada bunga deposito.

Baca juga:  Imbas Cek Kosong, Pimpinan Yayasan Pendidikan di Sukabumi di Polisikan

Jelas Diah menyatakan, secara logikanya siapa orang yang akan percaya untuk menginvestasikan uang kepada orang yang sudah gagal bayar terhadap perjanjian yang sudah dibuat sebelumnya.

“Klien saya ya meminta haknya, tapi tidak juga diberikan hingga akhirnya klien saya merasa resah dan panik terhadap haknya itu. Lalu ia mencoba mempertegas kepada RB soal uang tersebut bagaimana kejelasan? Seperti apa perjanjian investasi itu jika benar adanya? Lalu mekanismenya bagaimana? Jangka waktunya berapa lama? Dan kemana uangnya akan diinvestasikan?,” ujar Diah.

“Ya yang namanya investasi itu kan harus jelas. Perjanjian investasinya dan ada Undang-Undang yang mengatur syarat sah perjanjian itu, tidak bisa sembarangan donk, apalagi ini duit Rp1 Miliar ya cukup besar,” imbuhnya.

Akan tetapi tambah Diah, pihak RB tidak memberikan kepastian hukum dalam bentuk perjanjian investasi apapun dan mengatakan uang tersebut sudah sepakat di investasikan dan tidak bisa dicairkan seenaknya.

Lanjut Diah, jika yang bersangkutan menginvestasikan atau memutar uang kliennya dengan cara seperti itu apalagi tanpa perjanjian yang sah secara hukum maka, itu sudah bisa dikategorikan masuk kepada dugaan tindak penggelapan. Dan kliennya itu tetap bersikeras meminta uangnya yang sebesar Rp1 milyar untuk dibayar. Dan kliennya sudah berkali-kali manyampaikan tidak mengharapkan uang yang 2,5% tersebut.

“Nah pada tanggal 6 Maret 2023 klien saya benar-benar dalam kondisi butuh. Dia mendesak untuk di bayar ya wajar kan, toh itu kan memang uang dia. Jadi seharusnya sudah cair dan diterima klien saya sejak tanggal 15 januari 2023 sebesar Rp1 Miliar sesuai perjanjian. Tapi pihak RB mentransfer hanya 100 juta saat itu. Dan RB mengatakan bahwa cashflow mereka sedang terganggu. Lalu meminta waktu lagi 2 bulan dan itu juga dibenarkan oleh WP terkait kondisi keuangan RB saat itu,” jelasnya.

Baca juga:  Ratusan Peserta Ikuti Ujian Amatir Radio, ini Kata Sekda

Masih kata dia, klien saya tetap bersabar untuk menunggu hingga 2 bulan berlalu tetap saja RB hanya mentransfer 2,5 persen itu dan klien saya pun mencoba menemui WP di Pasim yang berlokasi di jalan Prana untuk bicara dari hati ke hati antar sesama perempuan namun tidak ada kepastian juga kapan akan dibayarkan sisa hutang tersebut.

“Akhirnya klien saya menduga bahwa dirinya hanya dipermainkan saja dan memutuskan untuk mendatangi Bank yg mengeluarkan Cek tersebut ditemani makelar yang mengenalkan RB dan WP untuk mencoba membuktikan kebenaran dari Cek tersebut dan berupaya meminta pihak Bank untuk membantu memediasi agar seluruh permasalahan hutang tersebut bisa terselesaikan termasuk mengembalikan sertifikat yang dijaminkan dan meminta sisa hutangnya, ternyata klien saya mendapat penolakan dan menemui jalan buntu,” ungkapnya.

Karena sudah adanya surat penolakan dari pihak Bank terhadap tambah Diah, Cek tersebut dirasa sudah memenuhi delik dan unsur pidana sehingga kita melaporkan kejadian itu ke Polres Sukabumi Kota dengan dugaan tindakan penipuan dan atau perbuatan curang sebagaimana diatur di dalam pasal 372 dan 378. Seluruh bukti-bukti otentik dan transkrip komunikasi dari klien, saksi-saksi, kepada RB dan WP sudah kita serahkan semua ke penyidik.

“Nah, dari situ uang sebesar 2,5 persen tidak diberikan lagi kepada AMC, sedangkan hutang tidak ada kejelasannya hingga saat ini apalagi di cicil, sepeser pun nihil tidak ada sama sekali. Jadi, kalau ada bahasa pertemanan sebelumnya, meminta tolong memerlukan uang, investasi, kesepakatan dan diangsur selama 6 bulan itu tidak benar dan kita pastikan itu akan segera kita laporkan ke Polda Jawa Barat namun beberapa hari kedepan kita sedang fokus untuk audiensi dengan pihak Komisi 10 DPR RI dan Kementrian Pendidikan RI untuk perkara Aquo, setelahnya pasti kita akan langsung ke Polda Jawa Barat untuk melaporkan itu karena sudah cukup saksi, bukti dan legal opinioin yang kuat terkait hal itu ditambah statement pihak mereka kepada awak media,” paparnya.

Baca juga:  Kapolri Tinjau Pelabuhan Tanjung Perak, Ini Pesannya

Selain itu masih kata Diah, Seandainya itu benar dan dari bulan januari di angsur 6 bulan harusnya sudah lunas, sekarang sudah januari 2024 sudah lebih 1 tahun. Sangat sederhana kalau RB dan WP serius ingin menyelesaikan kewajibannya mereka agunkan saja yamg mereka jaminkan ke klien saya kepada pihak ketiga atau lembaga keuangan atau perbankan, jangan menunda kewajibannya kepada AMC karena ia hanya manusia biasa yang punya kebutuhan dan kerugian immateriil yang ditimbulkan dari kejadian ini sebenarnya cukup fantastis juga nilainya dan terus berjalan waktu demi waktu yang nanti akan kita buka dan di buktikan semuanya di pengadilan.

“Pertanyaannya sederhana saja, apakah mereka merasa masih memiliki kewajiban untuk diselesaikan kepada klien saya atau tidak? Kalau iya selesaikan saja kewajibannya, beres urusan. As Simple As That. Kalau tidak kita akan terus memperjuangkan hak dari klien saya dimanapun dan kapanpun kita sudah siap mencari keadilan itu walau langit akan runtuh,” pungkasnya.

Pos terkait