LINGKARPENA.ID | Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Lembaga Edukasi Literasi Praturan dan Perlindungan Migran Indonesia, atau Lembaga Migran Indonesia (LMI) menerima pengaduan calon Pekerja Migran Indonesia untuk Negara Qatar yang gagal terbang, belum lama ini.
Berdasarkan keterangan Ketua DPP LSM LMI Ridwan Taufik kepada Lingkarpena.id menuturkan, ada Dua calon pekerja Migran Indonesia yang gagal terbang. Diantaranya adalah RR (29 Tahun). Ia merupakan warga Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cinajur, Jawa Barat.
Terkonfirmasi calon PMI satunya selain warga Cianjur yaitu Neng LS (35 Tahun) yang merupakan warga Bandung. Keduanya gagal berangkat karena menolak penempatan kerja keduanya yang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Taufik mengklaim dan menarasikan, Sponsor kerja yang terlibat bisa diartikan sebagai perbuatan Tindak Pidana Perdagangan Orang atau (TPPO). Namun, dalam kasus ini ia juga mengapresiasi calon PMI yang cukup peka dengan situasi dan gelagat sponsor sebagai perekrut kerja sehingga calon PMI ini menolak untuk diberangkatkan.
“Jadi berdasarkan informasi yang kami terima dari Calon PMI asal Cianjur ini, sebelumnya mereka dijanjikan Sponsor untuk dipekerjakan di Negara Uni Emirat. Namun, setelah dipertemukan dengan Agency, mereka akan dipekerjakan di negara Qatar,” jelas Ridwan Taufik, di Sukabumi, Rabu (21/1).
Ridwan Taufik juga menegaskan, TPPO merupakan kejahatan serius dengan modus atau melibatkan perekrutan, pengangkutan, penampungan, atau penerimaan seseorang dengan cara ancaman, kekerasan, penipuan dan penyalahgunaan kekuasaan untuk tujuan eksploitasi, seperti kerja paksa, perbudakan atau eksploitasi seksual, seperti yang sudah diatur dalam UU No.21 Tahun 2007.
“Biasanya modus operandi mereka ini menawarkan gaji tinggi, fasilitas mewah, padahal penawaran kerja itu palsu (bohong). Cara kerja mereka bisa melalui media sosial (medsos) atau secara langsung. Korbannya bisa siapa saja. Paling sering mereka menyasar kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak,” jelasnya.
Berikut ini adalah petikan ringkasan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, (RR) yang menolak diberangkatkan ke Negara Qatar, melalui voice note (VN) yang bersangkutan.
“Assalamu alaikum waraahmatullahi wabarakatuh… Nama saya Reni Rohimah, saya warga Cianjur tepatnya di Warung Kondang Kampung Geger Bitung. Saya awalnya mendaftarkan diri kepada Sponsor bernama Pak Zul, yang berdomisili di Depok, untuk berangkat dan bekerja ke luar negeri dengan tujuan Uni Emirat (Abu Dabi)”.
“Lalu saya Medical dan menginap satu malam di rumah Pak Zul. Lalu hari besoknya saya menunggu untuk menebus paspor di Pak Ikhwan, yang berdomisili di Jatiasih, Bekasi. Setelah menembus paspor, lalu saat itu juga diserahkan ke Bu Ainun selaku pemroses yang berdomisili di Gang Cohag, Cibubur.
“Setelah memberikan paspor ke Bu Ainun, malam itu juga saya langsung pulang ke Cianjur. Lalu sekitar Satu Minggu saya di rumah tiba-tiba hari Senin saya Ditelepon Pak Zul sama Bu Ainun disuruh datang lagi ke Depok untuk medical ulang di klinik Salamat dan saya juga dijanjikan terbang hari Rabu. Tapi, setelah saya nunggu sampai hari Rabu tidak ada jadwal penerbangan dan saya masih disuruh menunggu sampai hari Jumat karena dijanjikan ada penerbangan hari Jumat. Namun tiba-tiba di hari Kamis datanglah Mister Musthofa, agency dari Qatar dan saya sempat di-interview beberapa kali oleh si mister tersebut,”
“Terus setibanya di hari Jumat ternyata saya tidak juga diterbangkan dan saya memilih untuk pulang karena sudah ada kesepakatan sebelumnya. Kalau hari jumat belum juga terbang saya ijin pulang. Setelah saya 3 hari di rumah, lalu pada hari Senin ada telepon dari Bu Ainun dan Pak Zul, mengabarkan, saya hari Selasa ada jadwal terbang ke Qatar. Lalu saya tidak mau berangkat karena tidak sesuai dengan negara tujuan awal ketika saya mendaftar”
“Hari Selasa nya Pak Jul telepon lagi ke saya jam 10 pagi. dia akan menjemput saya di Ciawi karena ada jadwal penerbangan di hari itu jam 4 sore, tapi saya tidak berangkat karena saya kecewa dua kali dijanjikan terbang 3 kali malahan ternyata tidak jadi terbang dan ketika ada jadwal penerbangan tidak sesuai dengan awal saya mendaftar ke negara Emirat atau Abudabi.
“Nah malam harinya saya dapat informasi bahwa Pak Zul mendatangi rumah orang tua saya dan menanyakan keberadaan saya. Padahal, padahal dalam hal ini orang tua saya tidak tahu menahu soal proses keberangkatan saya ke luar negeri dan tidak ada tanda tangan surat izin apa pun saat keberangkatan saya”
“Saat Pak Jul ada dirumah orang tua saya, dia sempat ditelepon oleh salah satu anggota LMI. Tidak lama setelah menerima telepon dari Aktivis LMI lalu PakJul dan rekannya pulang. Lalu di pagi harinya Rabu tanggal 21 Januari orang tua Saya mengabarkan kepada anggota LMI, bahwa sponsor saya yang bernama Pak Jul yang berdomisili di Depok ternyata memviralkan saya dan teman saya yang bernama Neng Lusi Susilwati di status WhatsApp nya dengan caption hati-hati cepu Cianjur,” sebutnya.






