Analisis Inflasi Kota Sukabumi Juni 2026 Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), Tingkat Inflasi, dan Kontribusi Kelompok Pengeluaran

Istimewa [bps kota sukabumi]

LINGKARPENA.ID | Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sukabumi mencatat bahwa perkembangan harga berbagai komoditas di Kota Sukabumi pada Juni 2026 secara umum mengalami kenaikan yang tercermin dari meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) serta terjadinya inflasi baik secara tahunan (year-on-year/y-on-y), bulanan (month-to-month/m-to-m), maupun kumulatif tahun berjalan (year-to-date/y-to-d). Berdasarkan hasil pemantauan BPS, pada Juni 2026 Kota Sukabumi mengalami inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 2,71 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,69. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan IHK dari 109,72 pada Juni 2025 menjadi 112,69 pada Juni 2026. Sementara itu, inflasi month-to-month (m-to-m) pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,18 persen, sedangkan inflasi year-to-date (y-to-d) mencapai 1,54 persen.

Inflasi tahunan yang terjadi di Kota Sukabumi disebabkan oleh meningkatnya harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,55 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki justru mengalami deflasi sebesar 0,03 persen. Selanjutnya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,94 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 1,70 persen, sedangkan kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 1,79 persen. Kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 3,14 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,46 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,13 persen, kelompok pendidikan sebesar 1,41 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,68 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok dengan inflasi tertinggi yaitu sebesar 11,13 persen.

Dilihat dari nilai Indeks Harga Konsumen masing-masing kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan IHK dari 116,10 pada Juni 2025, menjadi 116,98 pada Desember 2025, dan meningkat kembali menjadi 120,22 pada Juni 2026. Kelompok ini mencatat inflasi m-to-m sebesar -0,21 persen, inflasi y-to-d sebesar 2,77 persen, inflasi y-on-y sebesar 3,55 persen, memberikan andil inflasi m-to-m sebesar -0,07 persen, serta andil inflasi y-on-y sebesar 1,22 persen.

Kelompok pakaian dan alas kaki memiliki IHK sebesar 105,77 pada Juni 2025, 105,65 pada Desember 2025, dan 105,74 pada Juni 2026. Kelompok ini mengalami inflasi m-to-m sebesar 0 persen, inflasi y-to-d sebesar 0,09 persen, deflasi y-on-y sebesar 0,03 persen, dengan andil inflasi m-to-m sebesar 0,00 persen dan andil inflasi y-on-y sebesar 0,00 persen.

Pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, IHK meningkat dari 102,06 pada Juni 2025, menjadi 102,60 pada Desember 2025, dan 103,02 pada Juni 2026. Kelompok ini mencatat inflasi m-to-m sebesar 0,04 persen, inflasi y-to-d sebesar 0,41 persen, inflasi y-on-y sebesar 0,94 persen, dengan andil inflasi m-to-m sebesar 0,01 persen dan andil inflasi y-on-y sebesar 0,13 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami peningkatan IHK dari 103,38 pada Juni 2025 menjadi 103,29 pada Desember 2025, kemudian naik menjadi 105,14 pada Juni 2026. Kelompok ini mencatat inflasi m-to-m sebesar 0,54 persen, inflasi y-to-d sebesar 1,79 persen, inflasi y-on-y sebesar 1,70 persen, dengan andil inflasi m-to-m sebesar 0,03 persen, serta andil inflasi y-on-y sebesar 0,08 persen.

Kelompok kesehatan mencatat IHK sebesar 108,29 pada Juni 2025, meningkat menjadi 109,28 pada Desember 2025, dan kembali naik menjadi 110,23 pada Juni 2026. Inflasi m-to-m tercatat 0,24 persen, inflasi y-to-d sebesar 0,87 persen, inflasi y-on-y sebesar 1,79 persen, dengan andil inflasi m-to-m sebesar 0,01 persen dan andil inflasi y-on-y sebesar 0,06 persen.

Kelompok transportasi mengalami peningkatan IHK dari 112,34 pada Juni 2025, menjadi 113,88 pada Desember 2025, kemudian meningkat menjadi 115,87 pada Juni 2026. Kelompok ini mengalami inflasi m-to-m sebesar 1,22 persen, inflasi y-to-d sebesar 1,75 persen, inflasi y-on-y sebesar 3,14 persen, dengan andil inflasi m-to-m sebesar 0,16 persen dan andil inflasi y-on-y sebesar 0,41 persen.

Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan memiliki IHK 98,64 pada Juni 2025, 98,02 pada Desember 2025, dan 99,09 pada Juni 2026. Kelompok ini mencatat inflasi m-to-m sebesar 0,35 persen, inflasi y-to-d sebesar 1,09 persen, inflasi y-on-y sebesar 0,46 persen, dengan andil inflasi m-to-m sebesar 0,02 persen dan andil inflasi y-on-y sebesar 0,03 persen.

Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya menunjukkan kenaikan IHK dari 110,67 pada Juni 2025, tetap 110,67 pada Desember 2025, kemudian meningkat menjadi 111,92 pada Juni 2026. Kelompok ini mengalami inflasi m-to-m sebesar 0,39 persen, inflasi y-to-d sebesar 1,13 persen, inflasi y-on-y sebesar 1,13 persen, dengan andil inflasi m-to-m sebesar 0,01 persen dan andil inflasi y-on-y sebesar 0,03 persen.

Pada kelompok pendidikan, IHK meningkat dari 105,56 pada Juni 2025 menjadi 107,05 pada Desember 2025, dan tetap 107,05 pada Juni 2026. Kelompok ini mencatat inflasi m-to-m sebesar 0 persen, inflasi y-to-d sebesar 0 persen, inflasi y-on-y sebesar 1,41 persen, dengan andil inflasi m-to-m sebesar 0,00 persen dan andil inflasi y-on-y sebesar 0,08 persen.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran memiliki IHK sebesar 108,99 pada Juni 2025, meningkat menjadi 109,83 pada Desember 2025, dan menjadi 110,82 pada Juni 2026. Kelompok ini mencatat inflasi m-to-m sebesar 0,01 persen, inflasi y-to-d sebesar 0,90 persen, inflasi y-on-y sebesar 1,68 persen, dengan andil inflasi m-to-m sebesar 0,00 persen dan andil inflasi y-on-y sebesar 0,18 persen.

Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok dengan tingkat inflasi tertinggi. IHK kelompok ini meningkat dari 121,73 pada Juni 2025, menjadi 132,21 pada Desember 2025, dan kembali meningkat menjadi 135,28 pada Juni 2026. Kelompok ini mengalami inflasi m-to-m sebesar 0,17 persen, inflasi y-to-d sebesar 2,32 persen, inflasi y-on-y sebesar 11,13 persen, dengan andil inflasi m-to-m sebesar 0,01 persen dan andil inflasi y-on-y sebesar 0,68 persen.

Secara keseluruhan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada Juni 2026 tekanan inflasi di Kota Sukabumi masih didominasi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, transportasi, serta terutama kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Meskipun demikian, terdapat satu kelompok yang masih mengalami deflasi, yaitu kelompok pakaian dan alas kaki, sehingga memberikan variasi terhadap dinamika perkembangan harga di Kota Sukabumi selama periode Juni 2026.

Baca juga:  Foto Viral: 1 Tewas 2 Terluka, Diduga jadi Korban Pembacokan? Ini Penjelasan Polisi

Pada Juni 2026, inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di Kota Sukabumi dipengaruhi oleh kenaikan harga pada berbagai komoditas yang tersebar di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi y-on-y antara lain **emas perhiasan, bensin, minyak goreng, daging ayam ras, bawang merah, sigaret kretek mesin (SKM), kontrak rumah, tahu mentah, sigaret kretek tangan (SKT), martabak, sigaret putih mesin (SPM), cabai merah, sepeda motor, kangkung, sate, perbaikan ringan kendaraan, cabai rawit, pemeliharaan/service kendaraan, beras, daging sapi, pepaya, laptop/notebook, mobil, obat gosok, taman kanak-kanak, pelumas/oli mesin, tarif kereta api, anggur, nasi dengan lauk, sekolah dasar, kopi bubuk, bayam, kulkas/lemari es, ikan nila, sekolah menengah atas, mi kering instan, solar, pasta gigi, panci, buku tulis bergaris, mesin cuci, santan jadi, apel, semangka, popok bayi sekali pakai (diapers), wortel, hand body lotion, pisang, shampo, makanan hewan peliharaan, ikan asin selar, cat tembok, susu fermentasi, es, bimbingan belajar, ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan aso-aso, televisi berwarna, bola lampu, roti tawar, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, pasir, jeruk, donat, ayam goreng, sop, dan buncis. Seluruh komoditas tersebut menjadi penyumbang utama tekanan inflasi di Kota Sukabumi selama Juni 2026.

Dari sisi kontribusi kelompok pengeluaran terhadap inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar yaitu 1,22 persen. Selanjutnya kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,68 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 0,41 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,18 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,13 persen, kelompok pendidikan sebesar 0,08 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,08 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,06 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,03 persen, sedangkan kelompok pakaian dan alas kaki memberikan andil mendekati nol (~0 persen).

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada Juni 2026 mengalami inflasi y-on-y sebesar 3,55 persen, yang ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 116,10 pada Juni 2025 menjadi 120,22 pada Juni 2026. Berdasarkan subkelompoknya, inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok rokok dan tembakau sebesar 4,44 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi pada subkelompok makanan dan minuman tidak beralkohol sebesar 0,75 persen. Kelompok ini memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 1,22 persen, menjadikannya kelompok dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi Kota Sukabumi.

Komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah minyak goreng dan daging ayam ras yang masing-masing menyumbang 0,14 persen, diikuti bawang merah sebesar 0,10 persen, sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,09 persen, tahu mentah sebesar 0,08 persen, sigaret kretek tangan (SKT) sebesar 0,07 persen, sigaret putih mesin (SPM) sebesar 0,06 persen, cabai merah dan kangkung masing-masing 0,05 persen, cabai rawit, beras, dan daging sapi masing-masing 0,04 persen, kemudian pepaya dan anggur masing-masing 0,03 persen. Selanjutnya kopi bubuk, bayam, ikan nila, dan mi kering instan masing-masing memberikan andil 0,02 persen. Komoditas lainnya yang masing-masing memberikan andil 0,01 persen meliputi santan jadi, apel, semangka, wortel, pisang, ikan asin selar, susu fermentasi, ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan aso-aso, roti tawar, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, jeruk, donat, buncis, salak, tongkol diawetkan, cumi-cumi, buah naga, ikan asin gabus, melon, ikan peda, kerupuk mentah, pir, terong, kue bolu/tart, dan kol putih/kubis.

Berbeda dengan kelompok lainnya, kelompok pakaian dan alas kaki pada Juni 2026 mengalami deflasi y-on-y sebesar 0,03 persen, yang ditunjukkan oleh penurunan IHK dari 105,77 pada Juni 2025 menjadi 105,74 pada Juni 2026. Dari dua subkelompok yang ada, subkelompok pakaian masih mengalami inflasi sebesar 0,22 persen, sedangkan subkelompok alas kaki mengalami deflasi sebesar 0,83 persen. Komoditas yang paling dominan memberikan andil terhadap deflasi adalah sepatu wanita sebesar 0,01 persen. Kelompok ini tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi maupun inflasi bulanan Kota Sukabumi karena nilainya mendekati 0 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi y-on-y sebesar 0,94 persen, dengan IHK meningkat dari 102,06 pada Juni 2025 menjadi 103,02 pada Juni 2026. Inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan pada subkelompok sewa dan kontrak rumah sebesar 1,62 persen serta subkelompok pemeliharaan, perbaikan, dan keamanan tempat tinggal/perumahan sebesar 3,57 persen. Sementara itu, subkelompok listrik dan bahan bakar rumah tangga serta subkelompok penyediaan air dan layanan perumahan lainnya tidak mengalami perubahan. Kelompok ini memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,13 persen.

Komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi tahunan pada kelompok ini adalah kontrak rumah sebesar 0,09 persen, kemudian cat tembok, pasir, kusen, dan semen yang masing-masing memberikan andil 0,01 persen. Sementara itu, terhadap inflasi bulanan (m-to-m), kelompok ini memberikan andil 0,01 persen, dengan komoditas utama penyumbang inflasi adalah cat tembok sebesar 0,004 persen dan keramik sebesar 0,001 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi y-on-y sebesar 1,70 persen, ditandai dengan meningkatnya IHK dari 103,38 pada Juni 2025 menjadi 105,14 pada Juni 2026. Dari enam subkelompok yang ada, lima subkelompok mengalami inflasi, yaitu subkelompok furnitur, perlengkapan dan karpet sebesar 1,40 persen, subkelompok tekstil rumah tangga sebesar 1,53 persen, subkelompok peralatan rumah tangga sebesar 6,60 persen, subkelompok barang pecah belah dan peralatan makan minum sebesar 5,41 persen, serta subkelompok peralatan dan perlengkapan perumahan dan kebun sebesar 5,98 persen. Sementara itu, subkelompok barang dan layanan untuk pemeliharaan rumah tangga rutin mengalami deflasi sebesar 0,21 persen.

Baca juga:  Di Bursa Kerja Luar Negeri, Hendra Kusuma: Ini Jumlah Kasus PMI Tahun 2019 dan 2023

Kelompok ini memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,08 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan adalah kulkas/lemari es sebesar 0,02 persen, sedangkan panci, mesin cuci, bola lampu, magic com/magic jar/rice cooker, dan kasur masing-masing memberikan andil 0,01 persen. Terhadap inflasi bulanan, kelompok ini memberikan andil sebesar 0,03 persen, dengan komoditas utama penyumbang inflasi adalah mesin cuci dan kulkas/lemari es, yang masing-masing memberikan andil 0,01 persen.

Kelompok kesehatan pada Juni 2026 mengalami inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 1,79 persen, yang ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,29 pada Juni 2025 menjadi 110,23 pada Juni 2026. Kenaikan harga pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh beberapa subkelompok, yaitu subkelompok obat-obatan dan produk kesehatan sebesar 3,04 persen, subkelompok jasa rawat jalan sebesar 0,89 persen, dan subkelompok jasa kesehatan lainnya sebesar 2,17 persen. Adapun subkelompok jasa rawat inap tidak mengalami perubahan harga sehingga tidak mengalami inflasi maupun deflasi pada periode tersebut. Kelompok kesehatan memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,06 persen terhadap inflasi Kota Sukabumi. Komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi adalah obat gosok sebesar 0,03 persen dan obat batuk sebesar 0,01 persen. Dengan demikian, meskipun tingkat inflasi kelompok kesehatan relatif moderat, kenaikan harga produk kesehatan tetap menjadi salah satu faktor pembentuk inflasi tahunan di Kota Sukabumi.

Kelompok transportasi merupakan salah satu kelompok dengan tekanan inflasi yang cukup tinggi pada Juni 2026. Kelompok ini mengalami inflasi y-on-y sebesar 3,14 persen, dengan IHK meningkat dari 112,34 pada Juni 2025 menjadi 115,87 pada Juni 2026. Dari empat subkelompok yang ada, tiga subkelompok mengalami inflasi, yaitu subkelompok pembelian kendaraan sebesar 2,62 persen, subkelompok pengoperasian peralatan transportasi pribadi sebesar 4,36 persen, dan subkelompok jasa angkutan penumpang sebesar 0,75 persen. Sementara itu, subkelompok jasa pengiriman barang tidak mengalami perubahan harga. Kelompok transportasi memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,41 persen, menjadikannya kelompok dengan kontribusi terbesar ketiga terhadap inflasi Kota Sukabumi setelah kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi adalah bensin sebesar 0,19 persen, diikuti sepeda motor sebesar 0,05 persen, perbaikan ringan kendaraan sebesar 0,04 persen, pemeliharaan/service kendaraan sebesar 0,04 persen, mobil sebesar 0,03 persen, pelumas/oli mesin sebesar 0,03 persen, tarif kereta api sebesar 0,03 persen, solar sebesar 0,02 persen, dan tarif kendaraan travel sebesar 0,01 persen. Dari sisi bulanan, kelompok ini memberikan andil inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,16 persen, yang hampir seluruhnya berasal dari kenaikan harga bensin sebesar 0,16 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga bahan bakar masih menjadi faktor paling dominan dalam membentuk inflasi transportasi di Kota Sukabumi.

Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan pada Juni 2026 mengalami inflasi y-on-y sebesar 0,46 persen, dengan IHK naik dari 98,64 pada Juni 2025 menjadi 99,09 pada Juni 2026. Dari tiga subkelompok yang ada, dua subkelompok mengalami inflasi, yaitu subkelompok peralatan informasi dan komunikasi sebesar 1,08 persen dan subkelompok jasa keuangan sebesar 0,33 persen, sedangkan subkelompok layanan informasi dan komunikasi tidak mengalami inflasi maupun deflasi. Kelompok ini memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,03 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi adalah laptop/notebook sebesar 0,03 persen dan televisi berwarna sebesar 0,01 persen. Terhadap inflasi bulanan, kelompok ini memberikan andil sebesar 0,02 persen, yang terutama disebabkan oleh kenaikan harga laptop/notebook sebesar 0,02 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga barang elektronik, khususnya perangkat komputer, menjadi pendorong utama inflasi pada kelompok informasi dan komunikasi.

Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami inflasi y-on-y sebesar 1,13 persen pada Juni 2026. IHK kelompok ini meningkat dari 110,67 pada Juni 2025 menjadi 111,92 pada Juni 2026. Dari empat subkelompok yang ada, tiga subkelompok mengalami inflasi, yaitu subkelompok barang rekreasi lainnya dan olahraga sebesar 1,32 persen, subkelompok layanan rekreasi dan olahraga sebesar 0,32 persen, dan subkelompok koran, buku, dan perlengkapan sekolah sebesar 1,83 persen. Sementara itu, subkelompok layanan kebudayaan tidak mengalami perubahan harga. Kelompok ini memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,03 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi adalah buku tulis bergaris sebesar 0,01 persen dan makanan hewan peliharaan sebesar 0,01 persen. Dari sisi bulanan, kelompok ini memberikan andil inflasi m-to-m sebesar 0,01 persen, dengan kontribusi utama berasal dari buku tulis bergaris sebesar 0,004 persen dan makanan hewan peliharaan sebesar 0,003 persen. Meskipun andilnya relatif kecil, kenaikan harga perlengkapan sekolah tetap tercermin dalam pembentukan inflasi kelompok rekreasi dan budaya.

Kelompok pendidikan pada Juni 2026 mengalami inflasi y-on-y sebesar 1,41 persen, dengan IHK meningkat dari 105,56 pada Juni 2025 menjadi 107,05 pada Juni 2026. Inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok pendidikan dasar dan anak usia dini sebesar 4,11 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi pada subkelompok pendidikan tinggi sebesar 0,12 persen. Kelompok pendidikan memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,08 persen terhadap inflasi Kota Sukabumi. Komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi adalah taman kanak-kanak sebesar 0,03 persen, kemudian sekolah dasar sebesar 0,02 persen, sekolah menengah atas sebesar 0,02 persen, dan bimbingan belajar sebesar 0,01 persen. Sementara itu, terhadap inflasi bulanan, kelompok pendidikan tidak memberikan andil yang signifikan karena perubahan harganya sangat kecil atau mendekati nol. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi pendidikan lebih bersifat tahunan, terutama terkait biaya pendidikan dasar dan anak usia dini, dibandingkan perubahan harga bulanan.

Baca juga:  Hari Pendengaran Sedunia, RSUD Syamsudin SH "On The Move" Ke SMPN 1 Kota Sukabumi

Secara keseluruhan, kelompok kesehatan, transportasi, informasi dan komunikasi, rekreasi dan budaya, serta pendidikan menunjukkan dinamika harga yang berbeda-beda pada Juni 2026. Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar di antara kelompok-kelompok tersebut, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar dan biaya operasional kendaraan, sedangkan kelompok informasi dan komunikasi serta rekreasi dan budaya memberikan kontribusi inflasi yang relatif kecil. Kelompok pendidikan menunjukkan adanya tekanan biaya pendidikan tahunan, sementara kelompok kesehatan mencerminkan kenaikan harga produk kesehatan dan jasa pelayanan kesehatan yang masih terkendali. Seluruh perkembangan tersebut menggambarkan struktur inflasi Kota Sukabumi pada Juni 2026 yang dipengaruhi oleh kombinasi kenaikan harga kebutuhan transportasi, pendidikan, kesehatan, dan barang-barang penunjang aktivitas masyarakat.
Bagian 4. Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran, Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, serta Perbandingan Inflasi Kota Sukabumi Tahun 2024–2026

Pada Juni 2026, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 1,68 persen. Inflasi tersebut ditandai dengan meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,99 pada Juni 2025 menjadi 110,82 pada Juni 2026. Kelompok ini hanya terdiri atas satu subkelompok, yaitu subkelompok jasa pelayanan makanan dan minuman, yang juga mengalami inflasi sebesar 1,68 persen. Kenaikan harga pada kelompok ini memberikan andil terhadap inflasi tahunan Kota Sukabumi sebesar 0,18 persen, sehingga menjadi salah satu kelompok yang cukup berkontribusi dalam pembentukan inflasi secara keseluruhan.

Komoditas yang paling dominan memberikan andil terhadap inflasi pada kelompok ini adalah martabak sebesar 0,06 persen, diikuti sate sebesar 0,04 persen, nasi dengan lauk sebesar 0,02 persen, sedangkan es, ayam goreng, sop, mi, dan ayam bakar masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen. Walaupun terjadi kenaikan harga secara tahunan, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi month-to-month (m-to-m) Kota Sukabumi pada Juni 2026 karena perubahan harga bulanannya relatif kecil atau mendekati nol.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya merupakan kelompok dengan tingkat inflasi tertinggi di Kota Sukabumi pada Juni 2026. Kelompok ini mengalami inflasi y-on-y sebesar 11,13 persen, yang ditunjukkan oleh kenaikan IHK dari 121,73 pada Juni 2025 menjadi 135,28 pada Juni 2026. Tingginya inflasi pada kelompok ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan harga yang cukup signifikan dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya selama periode satu tahun terakhir.

Berdasarkan struktur subkelompoknya, dari tiga subkelompok yang ada, dua subkelompok mengalami inflasi, yaitu subkelompok perawatan pribadi lainnya sebesar 23,44 persen dan subkelompok perawatan pribadi sebesar 2,05 persen, sedangkan subkelompok jasa lainnya tidak mengalami perubahan harga sehingga tidak mengalami inflasi maupun deflasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga berbagai barang kebutuhan perawatan pribadi masyarakat.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,68 persen, terbesar kedua setelah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi adalah emas perhiasan sebesar 0,59 persen, sehingga menjadi penyumbang terbesar dalam kelompok ini. Selain itu, pasta gigi, popok bayi sekali pakai (diapers), handbody lotion, shampoo, deodorant, parfum, dan tarif gunting rambut wanita masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen terhadap inflasi tahunan.

Sementara itu, terhadap inflasi month-to-month (m-to-m), kelompok ini memberikan andil sebesar 0,01 persen. Komoditas yang paling dominan memberikan sumbangan inflasi bulanan adalah pasta gigi sebesar 0,005 persen, diikuti shampoo sebesar 0,002 persen dan emas perhiasan sebesar 0,002 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa walaupun inflasi bulanan relatif kecil, secara tahunan kelompok ini mengalami tekanan harga yang sangat tinggi dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya.

Berdasarkan perbandingan perkembangan inflasi selama tiga tahun terakhir, tingkat inflasi Kota Sukabumi menunjukkan dinamika yang berbeda pada setiap indikator. Untuk inflasi month-to-month (m-to-m) pada bulan Juni, tahun 2024 mengalami deflasi sebesar -0,16 persen, kemudian pada 2025 berubah menjadi inflasi sebesar 0,35 persen, sedangkan pada 2026 inflasi bulanan tercatat 0,18 persen. Dengan demikian, inflasi bulanan pada Juni 2026 lebih rendah dibandingkan Juni 2025, tetapi lebih tinggi dibandingkan Juni 2024 yang masih mengalami deflasi.

Untuk inflasi year-to-date (y-to-d), Kota Sukabumi mencatat inflasi sebesar 1,32 persen pada Juni 2024, meningkat menjadi 1,97 persen pada Juni 2025, kemudian menurun menjadi 1,54 persen pada Juni 2026. Hal ini menunjukkan bahwa akumulasi kenaikan harga sejak awal tahun hingga Juni pada tahun 2026 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan tahun 2024.

Adapun inflasi year-on-year (y-on-y) pada Juni 2024 tercatat sebesar 2,20 persen, meningkat menjadi 3,26 persen pada Juni 2025, kemudian menurun menjadi 2,71 persen pada Juni 2026. Meskipun inflasi tahunan tahun 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2025, tingkat inflasi tersebut masih berada di atas capaian Juni 2024. Dengan demikian, perkembangan inflasi Kota Sukabumi selama tiga tahun terakhir menunjukkan adanya fluktuasi yang dipengaruhi oleh dinamika harga berbagai komoditas di setiap kelompok pengeluaran.

Secara keseluruhan, perkembangan Indeks Harga Konsumen Kota Sukabumi pada Juni 2026 menunjukkan bahwa inflasi masih berada pada tingkat yang relatif terkendali dengan inflasi year-on-year sebesar 2,71 persen, inflasi month-to-month sebesar 0,18 persen, dan inflasi year-to-date sebesar 1,54 persen. Tekanan inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 11,13 persen. Sebaliknya, kelompok pakaian dan alas kaki menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi sebesar 0,03 persen. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa pergerakan harga di Kota Sukabumi selama Juni 2026 masih didominasi oleh kenaikan harga pada komoditas kebutuhan pokok, energi, transportasi, serta kebutuhan perawatan pribadi, sehingga menjadi faktor utama dalam pembentukan inflasi daerah selama periode tersebut.

Pos terkait