TPA menggunakan 3 lapis perlindungan lingkungan. Pertama, di atas tanah asli yang telah dipadatkan dipasang lapisan kedap paling bawah berupa geosynthetic clay liner bahan geosintetis (GCL) setebal 1centimeter yang akan menahan kebocoran air lindi agar tidak mencemari tanah.
Lapisan kedua dan ketiga adalah lapisan geomembran setebal 2 milimeter berupa lapisan impermeabel dan geotextile setebal 1,2 centimeter. San itu berupa karpet sintetis berserat kasar yang khusus didatangkan dari Jerman.
Selanjutnya, karpet sintetis ini dilapisi batu koral dengan diameter 2 cm tertumpuk rata setinggi 50 cm sebagai bahan penyaring air lindi. Kemudian sampah ditumpuk, diratakan, dan ditimbun tanah pada setiap ketinggian tanah 1–2 meter agar tidak dihinggapi lalat dan juga mencegah terjadinya kebakaran dari gas metan yang dihasilkan sampah.
Terakhir, air lindi ditampung dan disalurkan ke kolam penampungan IPL (Instalasi Pengolahan Lindi) dengan sistem pemurnian bertahap dan dilengkapi bak kontrol. Output dari pembangunan TPA ini adalah mengedepankan konsep ramah lingkungan dengan mengurangi aroma tidak sedap.
“Nah, dengan sistem Sanitary Landfill tentunya pengelolan sampah akan lebih maksimal dan ramah lingkungan. Sehingga akan sangat berdampak bagi lingkungan sekitar dan masyarakat bisa hidup sehat. Namun amat sangat di sayangkan kondisinya hari ini pembangunan TPA Cikundul seperti terbengkalai tidak terselesaikan (terindikasi mangkrak),” kata Anggi.
“DPC GMNI Sukabumi Raya menanyakan kepada pihak pemerintah dalam hal ini kemetrian PUPR dan dinas DLH Kota Sukabumi selaku liding sektor di dareah. Dalam mengelola sampah dan lingkungan hidup, kanapa bisa sampai terjadi seperti seperti hari ini? Kenapa pembangunan tidak rampung?,” papar Anggi Fauzi Ketua DPC GMNI Sukabumi Raya itu.






