LINGKARPENA.ID | Upaya menekan angka stunting dan memperkuat Program Bangga Kencana terus digencarkan pemerintah bersama para mitra kerja. Melalui kegiatan fasilitasi teknis yang digelar di Kabupaten Kuningan, para pemangku kepentingan mendapatkan penguatan materi terkait kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, hingga penguatan program keluarga berencana.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama yang menyampaikan materi strategis sebagai bekal penguatan gerakan keluarga sehat dan sejahtera.
Pencegahan Stunting Dimulai dari Remaja
Materi pertama disampaikan oleh Hj. Rina Sa’adah, Lc., M.Si., yang menegaskan bahwa pencegahan stunting seharusnya dimulai jauh sebelum seseorang memasuki usia pernikahan.
“Stunting bukan hanya soal hambatan pertumbuhan fisik. Dampaknya mencakup kecerdasan, produktivitas, bahkan masa depan generasi kita. Karena itu, edukasi kesehatan reproduksi dan pemenuhan gizi harus dimulai sejak remaja,” ujar Rina.
Ia menekankan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam memberi edukasi yang benar mengenai gizi, kesehatan reproduksi, dan perencanaan keluarga.
Stunting Banyak Terjadi di 1.000 HPK
Sementara itu, Roy Primera, S.I.Kom., memaparkan bahwa sebagian besar kasus stunting terjadi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dimulai sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
“Gizi ibu hamil yang tidak memadai, bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, serta lingkungan yang tidak sehat menjadi penyebab utama stunting. Program Bangga Kencana hadir untuk memastikan intervensi gizi dan pengasuhan terpenuhi melalui kolaborasi lintas sektor,” jelas Roy.
Ia menambahkan, kerja sama dengan berbagai mitra harus terus diperkuat agar pendampingan kepada keluarga dapat berjalan efektif.
Program KB Perkuat Ketahanan Keluarga
Narasumber ketiga, Drs. H. Deniawan, M.Si., menekankan peran vital Program Keluarga Berencana dalam menjaga kesehatan ibu dan anak.
“Melalui perencanaan jumlah dan jarak kelahiran, keluarga dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat, bahagia, dan sejahtera. KB bukan semata soal kontrasepsi, tetapi tentang bagaimana keluarga bisa merencanakan masa depan secara matang,” ungkap Deniawan.
Ia menambahkan bahwa berbagai metode kontrasepsi yang tersedia saat ini aman dan bersifat sukarela sehingga keluarga dapat memilih sesuai kebutuhan.
Dorong Peserta Jadi Pelopor Perubahan
Dengan adanya kegiatan fasilitasi teknis ini, seluruh peserta diharapkan menjadi agen perubahan dalam mengampanyekan pencegahan stunting serta memperkuat implementasi Program Bangga Kencana di wilayah masing-masing.
“Kolaborasi pemerintah dan masyarakat adalah kunci. Bersama, kita bisa mewujudkan generasi emas Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” demikian pesan penutup dari para narasumber.
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen seluruh pihak dalam menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas keluarga Indonesia.






